I Want To Die but I Want to Eat Tteokbokki
I Want To Die but I Want to Eat Tteokbokki
.png)
Penulis : Baek Se Hee
Tahun Rilis : 2019
Genre : Self Improvement
Arunika - I Want To Die but I Want to Eat Tteokbokki merupakan salah satu buku self improvement dari Korea Selatan yang membahas seputar depresi. Perjalanan I Want To Die but I Want to Eat Tteokbokki saat pertama kali dirilis lumayan mendapatkan sambutan manis dari pembaca di Korea. Berkat popularitasnya inilah, I Want To Die but I Want to Eat Tteokbokki diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia termasuk Bahasa Indonesia.
Dari judulnya, sudah bisa ditebak ya ada sedikit kebingungan yang dialami oleh Baek Se Hee. Ia kehilangan alasan untuk bertahan hidup dan untungnya masih punya keinginan yang menahannya agar tidak mengakhiri hidup.
Seputar I Want To Die but I Want to Eat Tteokbokki
Berbeda dengan buku self improvement lainnya, I Want To Die but I Want to Eat Tteokbokki tidak berisi nasehat, diary atau hal-hal yang bisa dipelajari dari buku. Format penulisannya sangat sederhana dan tentunya asli. Apa yang ada di buku ini adalah apa yang dialami oleh Baek Se Hee. Secara umum isinya adalah salinan rekamanan konsultasi yang dilakukan oleh Baek Se Hee dan Psikiaternya.
Saat pertama buka buku kamu mungkin nggak akan nyangka kalau I Want To Die but I Want to Eat Tteokbokki dikemas dengan cara yang sangat sederhana. Buku ini sangat minim interpretasi penulis. Semuanya ditulis secara jujur, seperti membacanya percakapan antara pasien dan dokternya. Cara ini justru menjadikan I Want To Die but I Want to Eat Tteokbokki terasa multitafsir. Setiap orang yang membaca akan memiliki interpretasi berbeda, sesuai dengan kebutuhan dan pemahaman masing-masing.
Mengingat formatnya yang sederhana dan lugas, kemungkinan buku ini akan memberikan banyak insight khususnya jika kamu bersedia meluangkan waktu untuk membaca 2-3 kali lagi setelah bacaan selesai. I Want To Die but I Want to Eat Tteokbokki direkomendasikan untuk kamu yang sering mengalami kebingungan mengenali diri, sering merasa rendah diri, minder dan sulit bersosial. Untuk kamu yang penasaran dan nggak mengalami depresi juga tetap boleh baca buku ini ya.
Hal-hal yang Bisa Dipelajari dari I Want To Die but I Want to Eat Tteokbokki
1. Ada banyak masalah yang berasal dari pikiran,
Pikiran menjadi pemeran utama untuk setiap hal yang bisa kamu lihat dan sentuh. Sisi baiknya pikiran bisa menentukan apakah kamu memerlukannya atau tidak tapi jika tidak dikendalikan, pikiran justru menjadi area pertama yang menghancurkan diri. Pikiran selalu tahu bagaimana caranya membuat hati gusar dan tubuh berkeringat. Pikiran juga bisa menjebakmu berada di dinding yang tinggi sampai kamu sadar kalau dinding itu bisa dirobohkan.
2. Selalu temukan alasan-alasan kecil untuk bertahan hidup
Ini penting untuk kamu yang sedang kehilangan alasan hidup atau ingin mengakhiri hidup. Alasan untuk bertahan hidup datang dari hal-hal kecil yang terasa remeh seperti makan mie instan jam 2 pagi, minum coklat hangat saat musim dingin, mendengarkan suara burung di pagi hari atau menikmati aroma nasi hangat yang baru dimasak. Semuanya sederhana tapi itu bisa menjadi alasan sederhana untuk bertahan hidup karena semuanya hanya bisa kamu nikmati saat masih hidup.
3. Proses menghargai dimulai dari menghargai diri sendiri
Orang yang sedang depresi mungkin agak sulit melakukannya apalagi kalau sebelumnya kamu punya citra negatif soal diri kamu sendiri. Sampai kapanpun kamu ngga akan bisa bangkit jika terus-terusan berharap pada orang lain. Kamu bisa mulai dari hal sederhana seperti bangun di pagi hari. Kamu juga bisa belajar menghargai proses dengan memberikan sedikit apresiasi kecil pada diri sendiri untuk setiap pencapaian.
4. Kuncinya ada di self love
Saat kamu berhasil mencintai diri kamu sendiri maka dunia akan mencintaimu. Self love bukan hal yang mudah apalagi jika kamu pernah membentuk nilai atau standar bagaimana diri kamu harusnya terlihat. Setiap pencapaian yang membuatmu merasa lebih baik itu perlu diapresiasi dan kamu nggak perlu menunggu orang lain mengakui pencapaianmu. Kamu bisa konsisten di bagian itu, bisa juga mencoba hal baru untuk menemukan pencapaian yang baru lagi. Semakin banyak pengalaman yang kamu dapat maka kecintaanmu pada diri sendiri akan semakin besar.
5. Caramu memikirkan sesuatu akan mempengaruhi penglihatan mu
Baik dan buruk serta berharga atau tidaknya sesuatu dipengaruhi oleh bagaimana cara kamu memikirkannya. Poin ini terasa sangat subyektif karena pemikiran juga dipengaruhi oleh pengetahuan, pemahaman dan pengalaman. Pada dasarnya tidak ada yang 100% salah atau 100% benar karena jam dinding yang mati pun masih bisa menunjukkan angka yang benar 2 kali dalam 24 jam.
6. Bahagia bukan hal yang harus diatur
Banyak yang bilang kalau bahagia itu berawal dari diri sendiri, itu benar tapi bukan berarti kamu harus selalu bahagia. Bahagia bukan sesuatu yang bisa diatur. Akan lebih baik jika kamu bisa mengetahui kapan bahagia muncul dan kapan perasaan lain muncul. Semuanya adalah perasaan manusia. Bahagia bukan indikasi baik dan sedih adalah indikasi buruk. Kamu nggak perlu mengaitkan sesuatu yang nggak berkaitan atau menafsirkan perasaan dengan angka. Saat kamu bisa menerima perasaan apapun yang muncul dengan lapang, tubuh dan hatimu akan merasa lebih tenang. Dan tenang termasuk salah satu indikasi kamu bahagia.
Kelebihan dan Kekurangan I Want To Die but I Want to Eat Tteokbokki
Untuk kamu yang ingin belajar seputar depresi, bagaimana orang depresi, apa yang ada di dalam pikirannya, bagaimana caranya berpikir dan bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri, bisa banget baca buku ini. Semuanya dijelaskan secara ringkas dan padat karena isinya memang rekaman konsultasi Baek Se Hee. Di beberapa bagian mungkin terasa agak frontal dan tegas, karena memang harus dilakukan untuk menanamkan pemahaman baru bagi Baek Se Hee.
Di catatan ini juga ditemukan kalau sesi konsultasi Baek Se Hee dilakukan setiap beberapa bulan sekali, karena itu ada banyak pencapaian dan perubahan yang dialami Baek Se Hee di kehidupan nyatanya. Kamu akan tau kalau Baek Se Hee yang mengalami depresi, mendapatkan pertolongan profesional pun tetap hidup sebagai masyarakat sosial, tetap bekerja dan tetap berprestasi di pekerjaannya. Hal ini menunjukkan kalau depresi adalah gangguan yang sangat tersembunyi. Kamu akan tau apakah orang tersebut depresi atau tidak, seberapa besar masalahnya, bagaimana caranya berpikir saat membaca atau mendengarkan langsung ceritanya.
Kekurangannya, ini terasa agak subjektif mungkin nggak semua orang mengalami. Kekurangannya adalah membaca buku ini membutuhkan energi yang lebih besar dari sekedar membaca buku biasa. Alasannya, pertama karena isi pembahasannya fokus pada penanganan masalah psikologi, kedua cerita yang ditulis adalah cerita asli dengan susunan yang runtut. Rasanya seperti energimu akan banyak tersedot dalam wadah besar yang gelap dan agak mengurung. Subjektif memang, tapi ini memang benar-benar terjadi, tentunya bagi sebagian orang saja. Bacaan ringan yang dikemas interpretatif ini bisa membuat sebagian pembaca merasakan sesuatu yang berat entah di tubuhnya atau pikirannya. Jadi siapkan energi yang cukup ya..
Untuk kekurangan teknis sejauh ini tidak ada catatan yang perlu ditambah. Kamu bisa menikmatinya kapanpun kamu membutuhkan. Selamat membaca!
Post a Comment for " I Want To Die but I Want to Eat Tteokbokki"