Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review The School for Good and Evil


Sutradara : Paul Feig

Tahun Rilis : 2022

Genre : Drama, fantasy

Rate : 7.5

Review The School for Good and Evil
The school for good and evil


Arunika - The School for Good and Evil bercerita tentang sekolah khusus yang dibuat untuk mencetak anak-anak baik dan pemberontak. Sekolah ini bukan sekolah biasa karena kurikulum yang diajarkan berbasis sihir. Tujuan pengadaan sekolah pun untuk menjaga keseimbangan antara yang baik dan buruk agar dunia tetap stabil dan aman. Untuk kedua sekolah ini ada satu aturan yang harus diikuti, yaitu saat kejahatan menyerang maka kebaikan harus bertahan jika kebaikan menyerang duluan maka mereka bukan lagi kebaikan. Intinya begitu.


Review The School for Good and Evil


Hal pertama yang akan dibahas dari review ini adalah alur ceritanya. Dari ide awalnya dulu ya, cerita bergenre fantasi dan mengandalkan kekuatan sihir seperti ini umumnya memang membutuhkan komponen protagonis dan antagonis yang dibuat dengan sekat. Premis ceritanya mirip dengan cerita putri raja dan cerita-cerita disney secara umum. Di film ini kamu akan menemukan bagaimana karakter jahat dan baik berusaha mempertahankan posisi masing-masing. 


Poin yang menjadikan ceritanya menarik adalah, The School for Good and Evil ingin menunjukkan kalau manusia melakukan kesalahan adalah hal yang wajar. Nggak ada manusia yang bebas kesalahan dan nggak ada manusia yang selalu salah. Selalu ada titik abu-abu bagi semua manusia dan semua kesempatan. Alur cerita The School for Good and Evil menjadi menarik karena ternyata tampilan luar manusia itu menipu. Semua yang terlihat baik itu belum tentu baik dan semua yang terlihat buruk itu belum tentu buruk. Bahkan manusia bisa tertipu oleh dirinya sendiri. 


The School for Good and Evil bisa dimasukkan dalam list tontonan keluarga yang bisa kamu nikmati bareng kakak, adik atau ponakan di rumah. Hal yang agak mengganggu dari film ini ada pada ending filmnya. Kenapa ciuman sejati harus diberikan oleh sesama perempuan, itu bukan hal yang wajar. Adegan ini menjadi keputusan yang kurang pas dan multitafsir. Persahabatan mereka yang seharusnya terlihat murni atau tulus justru di salah artikan menjadi sesuatu yang romantis. Hanya karena adegan yang kurang dari 5 menit, pertanyaan "apakah Agatha dan Sophie saling jatuh cinta?" pun muncul. 


Selain itu, pengembangan karakter Shopie sejak awal terasa agak kurang maksimal. Posisinya sebagai siapa dan berakhir seperti apa itu kurang kuat. Sophie selalu merasa kalau dia baik tapi justru sebaliknya, ialah gadis dengan bakat kejahatan terbaik di sekolah for evil. Sebagai gadis dengan bakat jahat, peran Sophie justru sering ragu dan mudah terbujuk rayu. Rasanya jadi kurang pas dengan statusnya sebagai wanita terjahat yang bahkan dilirik oleh laki-laki terjahat juga. Kalau alasannya dia cuman mau dimanfaatkan saja demi menghancurkan sekolah pun rasanya kurang pas. 


Secara keseluruhan, film ini lumayan menghibur. Ada banyak aksi menarik dengan gaya berpakaian yang sama menariknya dan tampilan yang lebih artsy. Selama menonton film ini kamu akan disuguhkan keunikan model pakaian, kelengkapan properti, art dan berbagai efek CGI yang enak ditonton. Ditambah lagi, ada banyak karakter yang memberikan banyak kejutan dan hiburan bagi penonton. Ya meskipun beberapa karakter muncul dengan perubahan dan pertimbangan yang tiba-tiba. 


Pokoknya film ini menghibur, seru dan cocok untuk tontonan bareng keluarga. Untuk kamu yang ingin nonton, bisa cek link berikut ya. Selamat menonton!

Post a Comment for " Review The School for Good and Evil"