Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ARUNIKA dan Dilema Menjadi Penulis di Era Maraknya Audio Visual, Apakah Bisa Bertahan

 

Cover

Arunika - Arunika memulai blog ini tepat pada awal 2023 yang mana pada tahun ini mayoritas pengguna gadget lebih menikmati hiburan audio visual dibanding tulisan. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di produk audio visual, kamu bisa menikmati, memproduksi, menyebarkan atau mendukung berbagai karya yang tersedia. Ditambah

lagi kecanggihan AI yang semakin melejit setiap tahunnya, cukup gunakan teks singkat atau teks naratif saja, produk audio visual bisa langsung dibuat. Sama halnya di dunia tulis menulis yang dihebohkan oleh kemunculan Chat GPT, produk AI yang benar-benar memudahkan pekerjaan menulis. Hasil tulisan Chat GPT pun sama kerennya kayak

tulisan manusia, lebih simple dan hemat waktu.


Dengan semua fenomena teknologi di dunia modern ini, kok tim Arunika berani memulai dari blog? Pastinya ada alasannya tapi alasannya itu nggak filosofis-filosofis banget, nggak logis-logis banget juga.Tim Arunika tetap agak ketar-ketir juga kok menjalaninya. Sempet ngerasa ragu juga, apalagi sekarang tantangannya berlapis. Pertanyaan, bisa nggak ya? Itu kadang muncul. Tapi Arunika tetap melakukan yang Arunika bisa, sambil berbenah menjemput takdir. 


Balik lagi ke pertanyaan kok berani memulai? Di artikel kali ini Arunika mau bahas sedikit tentang alasan-dilema-keyakinan dan keputusan untuk melahirkan dan memperkenalkan Arunika Idea ke teman-teman. Artikel kali ini ditulis berdasarkan pemahaman dan pengalaman pribadi. Arunika juga akan memasukkan sedikit informasi umum agar lebih mudah dipahami.  Baiklah, simak ulasan berikut ya. 


Profesi Penulis Menurut Arunika

Penulis, menulis, menjadi penulis, profesi penulis


Bagi beberapa kalangan menjadi penulis mungkin bukan profesi yang bisa dibanggakan ya. Apalagi kalau kamu tinggal bersama orang tua yang sangat berharap anaknya bisa jadi PNS, sudah jelas kerjaanmu sebagai penulis nggak akan dipandang. Padahal menjadi penulis bukan profesi yang merugikan, perjalanannya memang nggak mudah dan butuh waktu lama tapi bukan berarti nggak bisa dipilih. Kalau berkiblat pada penulis fiksi besar di Indonesia seperti Andrea Hirata, Tere  liye, Ayu Utami, Dee Lestari dan masih banyak lainnya, pasti banyak yang mau jadi penulis.Itu baru dari sisi penulis fiksi saja, padahal ada banyak jenis  pekerjaan lainnya yang sama-sama membutuhkan kemampuan menulis. Arunika bahas secara singkat ya.


Pertama ada yang namanya penulis fiksi, sebenarnya fiksi itu genre tulisan ya tapi Arunika sengaja memasukkannya di posisi pertama karena istilah penulis sangat akrab dengan identitas penulis fiksi. Kamu yang pernah mengaku bekerja sebagai penulis mungkin pernah mendengar pertanyaan, "oohh kayak nulis nulis novel gitu ya" dan sejenisnya. 

 

Penulis fiksi adalah orang-orang yang menulis karya fiksi, biasanya identik dengan novel atau cerpen. Penulis fiksi jenis ini disebutnya novelis atau cerpenis. Cabang tulisan fiksi lainnya yang populer di masyarakat ada penulis naskah drama, penulis naskah teater, penulis cerbung, cerita bergambar, buku anak, naskah film, penulis web series dan sejenisnya. Apakah setiap penulis fiksi bisa menguasai semua cabang penulisan? Bisa kalau mau belajar dan pastinya belajar nulis itu nggak sebentar, kalau kamu mau bisa menguasai semuanya kamu harus pintar menyisihkan waktumu dan sabar. 


Mengenai cabang-cabang profesi tulisan fiksi tadi, setiap kategori punya teknik yang berbeda. Meskipun sama-sama fiksi, menulis novel dan cerpen itu beda caranya, menulis naskah teater dan naskah drama beda polanya, dan lainnya. Untuk struktur mungkin sama, karena struktur tulisan cenderung mirip-mirip ada pembuka - isi - penutup. Umumnya penulis fiksi selalu ada alur, tokoh, tema dan jalan cerita. 


Kalau kamu tertarik ingin bekerja di dunia kepenulisan profesional, setiap cabang tulisan fiksi ada sebutannya sendiri-sendiri dan ada wilayahnya sendiri-sendiri, ada timnya sendiri-sendiri juga. Kamu bisa cobain semua teknik menulis saat masih belajar lalu pilih satu atau dua teknik yang paling kamu sukai untuk ditekuni dan dikerjakan secara profesional. Pekerjaan yang dilakoni secara serius dan profesional, biasanya akan memberikan hasil yang lebih memuaskan. 

Menulis, penulis, tulisan
Jenis tulisan yang kedua adalah tulisan non fiksi, sama seperti tulisan fiksi tulisan non fiksi juga banyak cabangnya. Dua profesi yang paling terkenal saat ini ada copywriter dan content writer, pastinya nggak asing dong dengan dua istilah ini karena lowongannya memang banyak banget dan fleksibel. Selain dua profesi itu penulis non fiksi juga bisa berkaitan dengan penulis berita, penulis naskah dokumenter, penulis liputan, penulis surat resmi, penulis email (ini masih banyak cabangnya lagi), penulis review, penulis buku pendidikan, penulis buku non fiksi, ghostwriter dan masih banyak lainnya. 


Penulis non fiksi menuliskan fenomena, kabar, situasi, ilmu, informasi dan balasan surat dengan bahasa lugas dan to the point. Teknik menulisnya hampir mirip-mirip karena poin utama yang digunakan di jenis tulisan non fiksi harus mengandung 5W1H. Semakin ringkas kalimat yang digunakan maka semakin kental makna tulisannya, tapi tidak semua tulisan bisa menggunakan prinsip ini karena kadang informasi yang tersedia jomplang dengan target kata yang harus dicapai. 


Sekilas pandang, profesi penulis memang terkesan remeh karena cukup menggunakan satu perangkat saja kamu udah bisa menuliskan apapun di atasnya. Semua orang bisa menulis dan itu bukanlah pekerjaan yang sulit, tapi nggak semua orang bisa sabar menekuni bidang ini dan menjadi profesional di jalannya yang sepi. 


Menjadi Penulis Di Era Video


Gambar 2


Baiklah, menjadi penulis di era video apakah pilihan yang tepat? Jawaban ini menurut pendapat Arunika ya dan berdasarkan pengalaman pribadi. Dulunya Arunika sempat pesimis dengan situasi yang ada. Fakta soal minat baca yang rendah, budaya konsumtif video dan kecanduan gadget berhasil bikin agak pesimis untuk berkarir di bidang ini. Pertanyaan, bisa hidup nggak ya dari menulis? Bermanfaat nggak ya tulisannya? Ada yang baca nggak ya nanti? Bisa ngga ya diri ini membuktikan kalau berkarir di dunia menulis bukanlah pilihan yang salah? 


Nggak mudah memang memulai langkah di jalur ini. Belum lagi berhadapan dengan kondisi sosial ekonomi yang serba di ujung tanduk. Penuh keraguan dan ketidakpastian, semuanya terlihat abu-abu dan nggak jelas, perjalanan ini akan bermuara kemana? Setiap profesi menulis menawarkan resiko yang sama besarnya dengan pencapaiannya, tapi resikonya berkaitan dengan kesehatan terutama untuk penulis yang jarang bergerak atau berolahraga. Belum lagi soal saingan di bidang yang sama atau pajak pendapatan yang tergolong tinggi. Padahal menjadi penulis di era video seperti ini saja sudah sulit. 


Untungnya pemahaman Arunika agak sedikit berubah setelah melewati proses yang panjang dan rumit. Dunia digital memang sedang maju-majunya, produk audio visual pun semakin banyak diminati tapi bukan berarti tidak ada ruang bagi tulisan untuk terselip di antaranya. Mungkin pembaca ngga sebanyak penonton, tapi pembaca akan selalu ada. Mungkin tontonan lebih menghibur, tapi manusia nggak perlu hiburan setiap waktu. Semua akan ada titik jenuhnya sendiri-sendiri dan akan kembali menjadi pembaca yang senang memperkaya diri lewat kosa kata. Harapan ini akan tetap terjaga selama masih ada manusia. 


Alasan lainnya adalah perkembangan digital yang memudahkan akses video juga memudahkan akses bagi penulis yang ingin menerbitkan tulisannya. Kalau dulu semua hal harus dilakukan secara manual, sekarang sudah bisa dilakukan secara online. Untuk penulis fiksi, ada banyak platform menulis digital yang menyediakan wadah bagi para penulis untuk menyebarkan idenya. Platform ini juga memberikan ruang bagi para penerbit untuk menilai dan melirik karya yang ramai di pasaran. Pokoknya, menjadi penulis bisa lebih terbantu berkat teknologi digital. 


Terakhir, menulis memang pekerjaan yang harus dilakukan seorang diri karena berkaitan dengan ide dan orisinalitas karya tapi untuk menjadi penulis yang dikenal kamu ngga bisa hanya mengandalkan kemampuan menulis saja. Profesi ini menuntut kamu untuk bekerja sama dengan pihak-pihak yang mengerti atau menekuni bidang penerbitan dan pemasaran. Penulis juga harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang ada. Pintar menggunakan sosmed bukan hal buruk asalkan tujuannya memang baik. 


Gambar 3

Kamu mungkin protes soal banyak penulis yang nggak beradaptasi dengan teknologi tapi karyanya terkenal. Iya nggak papa mikir gitu, tapi itu kan jalannya dia. Jalanmu sama kayak dia atau nggak, kamu nggak tau dan ngga bisa menjamin. Nggak ada salahnya belajar, apakah ilmu itu kepake atau nggak ya biarin aja dulu. Percaya aja kalau suatu saat nanti ilmu yang kamu punya akan dibutuhkan dan menjadikanmu lebih berguna. 


Nah, kenapa Arunika tetap memulai karir di bidang ini? Pertama Arunika ingin bekerja di bidang kepenulisan secara profesional. Kedua, untuk menjadi penulis kamu harus mulai menulis, membangun portofolio dan mengenalkan diri sebagai penulis. Ketiga, Arunika percaya pada takdir yang di aamiin kan semesta. Ada banyak pengalaman, pelajaran dan ilmu yang bisa Arunika dapatkan karena menulis. Suatu saat akan ada titik balik bagi Arunika dan teman-teman yang hari ini lagi berusaha keras mengejar mimpi, jadi mari bergerak jangan menyerah. 


Apa aja yang perlu dilakukan? Sebagai penulis hal pertama yang harus dilakukan yaitu menulis, kedua membaca dan terakhir menulis lagi. Ikut pelatihan boleh tapi kunci utamanya bukan di pelatihannya tapi di menulisnya. Kalau penulis nggak mau nulis, ya gimana mau disebut penulis ? Padahal esensi penulis ada di tulisannya dan lewat tulisan itu juga penulis menitipkan umurnya. Selama tulisan itu masih dibaca orang, selama itu pula penulis hidup. 


Untuk menutup postingan singkat Arunika ini, ada satu nasehat dari Imam Ali bin Abi Thalib yang mau Arunika kutip sebagai pengingat Arunika sendiri. Terima kasih sudah menyimak sampai selesai, nantikan postingan Arunika selanjutnya ya.

Gambar 4



Post a Comment for "ARUNIKA dan Dilema Menjadi Penulis di Era Maraknya Audio Visual, Apakah Bisa Bertahan"