Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sinopsis dan Review Film Roald Dahl Matilda The Musical

Dari judulnya sudah jelas ya, film ini konsepnya drama fantasi musikal, di sepanjang film kamu bakal menyaksikan alur yang full drama dan musikal. Agak beda dari film Matilda versi sebelumnya, tapi tetap memberikan sedikit unsur Roald Dahl terutama pada part perjuangan Matilda. 


Oke, pertama-tama kenalan dulu dengan Film Roald Dahl Matilda The Musical. Film ini dirilis pada 2022 lalu dengan pembaharuan konsep yang sangat berbeda dibandingkan seri sebelumnya. Inspirasi lahirnya film ini dari drama musikal panggung yang digarap sekitar tahun 2011, ya bisa dibilang film ini versi adaptasinya dari yang awalnya ada di panggung pindah ke layar lebar


Roald Dahl Matilda The Musical diproduksi oleh TriStar Pictures, Working Title Films, Roald Dahl Story Company dan tak ketinggalan Netflix karena itu film ini bisa kamu temukan di Netflix. Untuk deretan pemeran ada Alisha Weir yang bermain sebagai Matilda, Lashana Lynch, Stephen Graham, Emma Thompson, Sindhu Vee dan Andrea Riseborough.


Kok nggak dijelasin mereka berperan sebagai apa? Yaa terlalu panjang kalau dijelaskan semua. Kalau penasaran, kamu bisa cek detailnya di film ya. Selanjutnya, mari bahas sinopsis Roald Dahl Matilda The Musical.


Sinopsis Roald Dahl Matilda The Musical

Roald Dahl Matilda The Musical bercerita tentang seorang anak perempuan jenius yang kelahirannya ngga beggitu diharapkan. Orang tuanya, khususnya ibunya nggak mau punya anak dan ayahnya berharap itu adalah anak laki-laki. Matilda tumbuh besar dengan bentuk perhatian yang kurang dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku.


Kesukaan Matilda pada buku bukan hal yang main-main. Ia memang sangat menyukai semuanya, bacaan berat dan ringan bukan masalah baginya. Untuk anak yang masih baru masuk SD, jumlah buku bacaan Matilda sudah tergolong banyak dan kompleks. 


Cerita di film ini lebih fokus pada aktivitas sekolah Matilda yang mana ia masuk sekolah aneh, bernuansa gloomy dan lumayan kepala sekolah sentris. Paham yang diajarkan kepala sekolah untuk semua anaknya adalah, you always lose and i always win


Ketangkasan cara berpikir Matilda terasa sangat berbeda ketika ia menghadapi Kepala Sekolah. Ada banyak celah dan cara yang ia tunjukkan sebagai bentuk perlawanan, dan yaaa Matilda menjadi orang pertama yang berani melakukan aksi pemberontakan di sekolah. Tentunya aksi ini mendapat dukungan banyak kalangan dong, karena semua siswa merasa kalau itu bukan sekolah tapi penjara.


Di sela-sela kegiatan sekolah dan membaca buku, Matilda juga sering menjadi story teller bagi seorang wanita yang membuka bisnis buku keliling. Matilda termasuk storyteller yang baik untuk usianya. Ia bahkan bisa merangkai imajinasi menjadi satu cerita utuh secara bertahap. 


Aksi pemberontakan Matilda pada Kepala Sekolah memuncak ketika kepala sekolah dengan sengaja melakukan banyak hal yang merugikan Matilda, teman-teman dan gurunya. Dalam cerita ini, Matilda digambarkan memiliki kemampuan telekinesis yang lumayan kuat dan berkat kemampuannya ini Matilda berhasil mengembalikan sekolah kepada pemilik seharusnya san menjadikan sekolah terasa lebih hidup dan berwarna. 


Review Film Roald Dahl Matilda The Musical


Pertama-tama ada hal yang sangat perlu diapresiasi dari film ini, yaitu kerja keras setiap pemain dan crew mulai dari scene awal - selesai. Roald Dahl Matilda The Musical memang sangat musical dan sedikit dramatik. Ada banyak pemain, properti, gerakan, musik dan alur cerita yang luar biasa rumit. Kalau bukan profesional pastinya bakal sulit sih bikin drama musikal sekelas ini. Bayangkan deh, mulai dari scene rumah sakit yang ceritanya mau melahirkan saja penataannya sudah sangat rumit, belum lagi sinkronisasi gerakan, pemilihan warna dan blocking kamera, pergerakan kamera, instrumen, musik, vokal dan memancing para bayi agar bisa tersenyum.. Itu sangat-sangat membutuhkan usaha besar. 


Selanjutnya, dari segi alur cerita secara garis besar agak mirip dengan film Matilda versi sebelumnya terutama pada penentuan karakter, pengembangan karakter dan aksi pemberontakan.  Hal yang mungkin bikin agak kurang nyaman ada pada part musikalnya agak berlebihan. Ya memang konsepnya drama musikal tapi karena cerita ini diadaptasi sebagai karya visual layar lebar, komposisinya jadi terasa agak kurang pas. Saat film ini baru diputar, konsep musikal terasa sangat fresh, keren dan beda tapi setelah 1 jam menonton rasanya jadi terlalu panjang, nggak to the point dan alurnya lambat. Efeknya, pesan yang ingin disampaikan di setiap lagu jadi bias. 


Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari film ini, pertama untuk menjatuhkan penguasa yang bengis dan bodoh harus dimulai dari banyak membaca buku. Buku adalah amunisi terbaik untuk memberantas hal-hal yang kurang pantas. Ini bisa diartikan secara langsung bisa juga untuk perenungan untuk diri sendiri, khususnya untuk kamu yang ingin terbebas dari kungkungan kebodohan dan kebengisan pikiran. 


Pelajaran kedua, untuk menjadi storyteller yang baik kamu harus banyak membaca dan menikmati setiap momennya secara real. Storyteller bisa menjadikan imajinasinya terasa lebih nyata dan bisa berinteraksi langsung dengan setiap tokoh yang ada di dalam imajinasinya. Ia bercerita sambil menyaksikan setiap kejadian secara detail dan menempatkan diri sebagai penonton sekaligus pencerita. Sulit dipahami ya? Yaaa nonton dulu aja nanti ya mudeng sendiri. 


Pelajaran ketiga, melawan dengan taktik itu lebih penting daripada hanya sekedar melawan. Matilda dalam film ini menempatkan porsi perjuangan yang pas. Dia nggak memberontak di segala aspek. Memang pemberontakan paling besar ada di bawah kendalinya tapi hal itu tidak dilakukan secara terus menerus. Ada kalanya ia memberikan ruang untuk mengamati, ruang untuk teman-temannya bertindak dan ruang untuk orang dewasa membantunya. Tentu Matilda punya masalah personal tapi ia menyimpannya sendiri dan jarang menunjukkannya ke orang lain. Berkat penentuan porsi dan perannya yang pas inilah Matilda berhasil menarik perhatian seluruh anak dan melakukan aksi bersama. 


Pelajaran keempat, kamu harus menemukan tempat terbaik yang bisa menjadikanmu lebih berkembang, belajar banyak hal baru dan menerima setiap aspek yang kamu perjuangkan. Mungkin tempat itu bukan rumahmu dan bukan dari keluargamu. Kalau situasinya memang menuntutmu untuk memilih, pilihlah tempat yang bisa membuatmu lebih berkembang dan lebih diterima. Alasannya, ya karena tempat itu lebih mengakuimu dan lebih baik dalam mengembangkan potensimu. Poinnya ada pada memilih tempat yang bisa mengembangkan potensi diri bukan tempat yang nyaman atau tidak nyaman. 


Berikut ini ada satu kutipan pesan terbaik yang bisa dijadikan pegangan hidup, 


"hanya karena kamu menemukan bahwa hidup ini nggak adil bukan berarti kamu harus tersenyum dan menanggungnya, saat kamu hanya bisa menerima dan membawa kenyataan tersebut di dagumu maka tidak akan ada yang berubah" by Matilda. 

Post a Comment for " Sinopsis dan Review Film Roald Dahl Matilda The Musical"