Review Film Qorin, Aksi Pemanggilan Jin Pendamping yang Membawa Petaka
Review Film Qorin, Aksi Pemanggilan Jin Pendamping yang Membawa Petaka
![]() |
| Qorin |
Sutradara : Ginanti Rona
Tahun Rilis : 2022
Genre : horor
Rate : 7.8
Anurika - Qorin menjadi film horor terbaru Indonesia yang berani mengangkat set latar berbeda dari biasanya. Kalau biasanya film horor Indonesia identik dengan background orang begajulan, hutan, tempat terlarang dan dukun, Qorin muncul dengan wajah baru. Tentunya ini lebih akrab dengan masyarakat dan sedikit berani.
Untuk mereview film Qorin, kita akan mencari tahu sedikit tentang apa itu Qorin dan kenapa kehidupan pesantren yang dipilih. Sebagai penonton awam, tentunya ada beberapa kemungkinan yang bisa kita rumuskan untuk mengetahui asal usul terbentuknya latar belakang penyusunan film Qorin. Ini akan menjadi pembahasan film yang agak sedikit ngalor- ngidul, kamu bisa siapkan segelas es matcha latte yang segar dan manis. Oke langsung aja, yuk mulai review nya.
Sinopsis Film Qorin
Film Qorin bercerita tentang para santri di Pondok Pesantren yang diajarkan bagaimana ritual memanggil jin qorin. Pelajaran ini sebenarnya bukan bagian dari kurikulum pondok, melainkan keinginan tunggal dari Ustadz Jaelani menantu Kyai Mustofa yang bertanggung jawab mengurus santri.
Ritual pemanggilan jin qorin ini dianggap sebagai persyaratan ujian, jika ada santri yang tidak ikut maka mereka tidak boleh ikut ujian kelulusan. Memang aneh tapi tidak ada yang bisa protes karena semua santri ingin segera keluar dari tempat tersebut.
Sebelum ritual dilakukan, seluruh santri yang ikut dalam ujian tersebut harus mengumpulkan persyaratan terlebih dahulu. Zahra sebagai santri teladan diberikan tanggung jawab untuk mengkoordinir pengumpulan syarat.
Malam ujian pun tiba, semuanya dikumpulkan di lapangan saat hujan dan melakukan ritual sesuai arahan Ustadz Jaelani. Sekilas memang tidak terjadi apa-apa, tidak ada tanda-tanda masalah muncul bahkan tidak ada tanda-tanda ada yang mata batinnya terbuka.
Masalah mulai muncul saat ada santri yang kesurupan dan satu persatu jin qorin yang dipanggil mengganggu mereka. Masing-masing orang punya gangguan yang berbeda karena ketakutan dan rahasia yang disembunyikan berbeda. Poin paling jelasnya adalah semua jin qorin itu dipanggil untuk membawa petaka, dan semuanya memang ulah Ustadz Jaelani yang sudah bekerja sama dengan iblis.
Apa itu Qorin?
Dilansir dari BDK Banjarmasin Kemenag, Qorin adalah kata yang diambil dari Bahasa Arab yang dipakai untuk menamai jin (golongan setan) untuk menemani manusia. Menurut kepercayaan Islam, setiap manusia lahir dengan qorinnya masing-masing. Pengetahuan ini merujuk pada hadits nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud, Rasulullah SAW bersabda
“Setiap kamu ada Qarin dari bangsa jin dan juga dari bangsa malaikat" dan hal ini berlaku untuk semuanya, termasuk Nabi SAW.
Prof Quraish Shihab dalam bukunya Mistik, Seks dan Ibadah menjelaskan bahwa istilah qorin juga terdapat dalam Al-Qur'an, salah satunya Q.S Az-Zukhruf.
"Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (al quran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan)" Q.S Az-Zukhruf ayat 36.
Setan yang disebutkan disini adalah sosok teman yang menyertai manusia dan mengajak pada kemungkaran.
Review Film Qorin
Secara umum, film Qorin ini agak beda dari film-film horor Indonesia lainnya. Belakangan trend film horor Indonesia memang agak berubah sih, karakter yang dipilih adalah orang alim yang taat dan rajin beribadah. Nah, kalau film Qorin bukan hanya orang alim saja yang digunakan tapi secara spesifik memilih latar tempat belajar yang identik dengan kepercayaan muslim Indonesia.
Kalau dari cerita, Film Qorin seperti ingin menunjukkan bagaimana kehidupan pesantren yang setiap kepala punya kepentingan dan masalahnya sendiri-sendiri. Pesantren bukan tempat orang-orang baik berkumpul, melainkan tempat orang yang ingin belajar menjadi lebih baik berproses. Anggapan bahwa semua orang yang di pesantren adalah orang baik diruntuhkan di film ini. Fakta yang sebenarnya adalah semua manusia itu sama, bedanya ada yang bisa mengendalikan diri dan ada yang tidak.
Dari situasi tersebut, poin yang mungkin ingin disorot oleh film ini adalah bagaimana kehidupan pesantren yang jarang diketahui orang dan potensi tindakan asusila itu bisa terjadi dimana saja. Latar ceritanya jelas tapi terasa agak kurang kuat. Ada sisi cerita yang dibuat terlalu umum dan penonton seolah diminta untuk memaklumi saja. Seperti tidak ada kedalaman cerita, yang ada hanya masalah satu bertemu masalah lain dan ternyata saling berkaitan dan didalangi oleh orang yang sama.
Masalah utama yang ingin diangkat film ini menjadi bias antara praktek syirik di pesantren atau tindak asusila di pesantren. Di dunia nyata, melakukan kedua hal ini secara bersamaan memang bukan hal yang mustahil. Apalagi untuk pria berkuasa yang hidup di lingkungan wanita seperti Ustadz Jaelani, jelas melakukan tindak asusila bukanlah hal yang sulit. Masalahnya adalah film ini mengangkat dua masalah berbeda di satu film.
Alasan Ustadz Jaelani melakukan tindak asusila terasa kurang kuat, apakah ia melakukannya karena istrinya tidak bisa hamil, apakah karena nafsu belaka, apakah karena iseng, apakah itu syarat untuk menjadi budak iblis atau apakah itu bentuk perlawanan dari ustadz Jaelani karena selama ini diremehkan? Tidak tahu pertanyaan mana yang ingin dijawab, karena bisa saja tindakan ini dilakukan hanya untuk merusak mental santri putri dan menjadikan semuanya takluk padanya agar mudah dikendalikan. Hanya sutradara dan crew film yang bisa menjawab.
Efek dari kemunculan isu asusila ini adalah ceritanya jadi tidak fokus pada perbuatan syirik di pesantren. Padahal di part menuju akhir Jaelani mengatakan kalau tindakannya dilakukan karena sulit mendapat pengakuan dari Kyai Mustofa. Masalahnya ada pada harga dirinya yang terkoyak. Meski pengakuan ini hanya sepenggal kalimat saja dan screen time nya tidak sampai satu menit, pengakuan tetaplah pengakuan. Kalimat yang hanya sepenggal ini adalah penyebab semua kekacauan di pesantren terjadi, dan itu ngga ada hubungannya dengan perempuan.
Selanjutnya, dari sisi penokohan dan pengembangan karakter, karakter utama di film ini tidak jelas apakah Yolanda atau Zahra. Peran Yolanda jelas lebih kuat dan lebih berpengaruh, sangat berbeda dengan Zahra. Jika Zahra adalah tokoh utama, artinya pengembangan karakter Zahra disesuaikan dengan stereotype pemahaman bahwa santri adalah orang yang penurut, tidak berani melawan dan agak penakut. Jelas itu pemahaman yang salah. Kalau Ustadz Jaelani saja bisa bersekutu dengan iblis, kenapa santri tetap dengan gambaran yang selalu menurut?
Kenapa rate film ini tetap tinggi padahal pengembangan ceritanya banyak bias? Karena film ini masih bisa dinikmati dan lumayan menghibur meskipun banyak adegan menakutkannya juga. Arunika percaya tim Qorin sudah melakukan riset lapangan, sehingga berani menggunakan mantra, ajian atau bacaan ayat tertentu saat melakukan ritual. Cara ini termasuk cara yang familiar dan akrab di lingkungan masyarakat. Unsur kedekatan inilah yang menjadikan film Qorin terasa lebih menarik.
Selain itu, Qorin juga sukses dalam memberikan kejutan dan ketegangan pada penonton. Ditambah scoring yang kuat dan khas, musik dan instrumen yang digunakan di film ini bisa terngiang-ngiang terus. Artinya, Qorin berhasil menjadi film horor Indonesia yang menegangkan dan menghibur sesuai kapasitas besutannya.
Secara keseluruhan, Qorin adalah film menarik, menegangkan dan menghibur. Kamu bisa menonton film ini bersama teman atau keluarga. Poin pentingnya adalah film ini layak untuk dinikmati.

Post a Comment for "Review Film Qorin, Aksi Pemanggilan Jin Pendamping yang Membawa Petaka"