Apakah Penulis Harus Pandai Berbicara
Arunika - Apakah penulis harus pandai berbicara?
Dari semua kebutuhan dan niat awal saat seseorang mulai menulis, tentu ada perbedaan progress yang ingin dicapai, perbedaan target dan pencapaian. Berbicara pada dasarnya termasuk skill bertahan hidup yang tumbuh secara alami. Manusia berbicara untuk saling berbagi informasi, berbagi kabar, untuk mengeluarkan uneg-uneg dan menunjukkan emosi yang sedang dirasakan.
Keuntungan Memiliki Kemampuan Public Speaking
Jika seorang penulis juga memiliki kemampuan berbicara yang baik, itu akan menguntungkannya dari segi karir kepenulisan. Saat penulis berani menyampaikan ide cerita, pendapat atau pandangannya secara lisan, mereka akan membuka satu pintu lainnya yang di dalamnya ada lebih banyak audiens. Penulis bisa menjangkau lebih banyak orang dan bisa mempengaruhi lebih banyak kalangan. Poin ini akan sangat berpengaruh pada tersebarnya karya, karya menjadi lebih mudah diingat dan dikenali.
Bukan berarti menjadi penulis harus pandai berbicara. Kalau penulis mau dan mampu mengasah skill public speaking, itu baik bagi penulis dan karyanya tapi kalau nggak mau juga nggak papa. Kalau kamu termasuk penulis yang tidak ingin menunjukkan identitas diri, cukup berbicara lewat tulisan saja. Atau jika keadaannya memang sangat mendesak dan kamu harus mempromosikan tulisanmu secara lebih maksimal, kamu bisa mencoba dubbing, membuat podcast, memanfaatkan sosial media atau bercerita lewat ilustrasi.
Pernyataan ini menjadi dilematik bagi penulis yang tidak ingin berbicara di depan umum karena biasanya penulis yang berhasil melahirkan karya atau ada tulisannya yang fenomenal akan langsung dikejar kamera. Contohnya saat promosi buku, film atau karya tulis lainnya yang membutuhkan presentasi.
Ketika Berbicara Di Depan Umum Terasa Sulit
Beberapa orang mungkin berpikir, kalau itu karya asli buatan sendiri harusnya aman aja dong dan nggak perlu merasa takut. Kamu cukup menjelaskan apa yang ada di tulisanmu, nggak perlu dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi. Pokoknya jelaskan aja apa adanya.
Iya, itu bener tapi masalahnya nggak sesederhana itu. Ada beberapa faktor yang menjadikan para penulis sulit berbicara di depan umum. Biasanya memang berkaitan dengan psikologis penulis. Ada penulis yang merasa tertekan ketika berbicara di depan umum, demam panggung dan pikirannya tiba-tiba blank. Kondisi ini ngga bisa dianggap remeh atau disepelekan dengan alasan, kan cuman bicara aja. Memang benar berbicara itu harus dilatih dan ketakutan harus dilawan tapi banyak penulis yang tidak menyiapkan diri ada di situasi tersebut.
Ada banyak penulis yang merilis karya mereka tanpa memikirkan bagaimana nasib dan karir mereka ke depannya. Ada juga penulis yang memusatkan perhatiannya pada peningkatan kemampuan menulis tanpa memikirkan cara mengasah skill lainnya. Para penulis mungkin akan menjadikan pekerjaannya sebagai alasan, 'kami menulis karena berbicara langsung terasa berat bagi kami'. Mungkin ada juga yang bilang, 'kalau kami pandai berbicara, harusnya kami menjadi pembicara bukan writer'.
Soal Menulis, Penulis, Tulisan dan Public Speaking
Menulis termasuk pekerjaan yang sepi dan kadang melelahkan. Penulis harus bekerja sendirian dan melewati kehidupannya yang sepi seorang diri. Banyak penulis yang berharap kesehatannya tetap terjaga dan mereka nggak mati muda karena kelelahan bekerja. Terasa agak berlebihan? Itu nggak berlebihan, percayalah. Pekerjaan penulis termasuk pekerjaan yang sunyi dan membutuhkan banyak latihan. Penulis sibuk dengan segala hal ciptaannya, segala hal yang ada di dalam pikiran dan hatinya, serta sibuk dengan dunia yang hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri.
Memang ada beberapa penulis yang bisa mengembangkan dua kemampuan ini secara bersamaan tapi kamu nggak perlu berkaca kesana. Biarkan ia dengan karirnya dan kamu dengan karirmu. Nggak perlu menjatuhkan kemampuanmu dengan berpikir, dia melakukan segalanya dan melangkah lebih jauh sedangkan aku hanya disini menunggu situasi berganti, percaya deh kamu ngga perlu mikir gitu.
Di sisi lain, cobalah pecahkan pertanyaan kenapa kamu nggak mau belajar public speaking. Kalau alasannya karena malu atau tidak punya bakat, berarti ini termasuk alasan yang bisa diatasi. Kalau alasannya karena kamu ingin identitasmu sebagai penulis nggak terbongkar, artinya kamu sudah memilih. Terlepas kamu bisa public speaking atau nggak, kamu fokus pada menggiring orang untuk menyukai tulisanmu tanpa mengetahui siapa penulisnya. Ini adalah keputusan yang harus dihormati semua kalangan.
Untuk para penulis yang masih ragu belajar public speaking dan khawatir tidak mampu mengendalikan rasa takut, tips yang bisa Arunika kasih adalah cobalah bersikap lebih tenang. Tenangkan pikiranmu saat belajar berbicara. Target pertama dari pelajaran ini adalah kamu merasa aman dan nyaman berbicara di depan umum. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain dan apresiasi apapun yang berhasil kamu capai dari kegiatan belajarmu.
Proses belajar berbicara menjadi sulit ketika kamu berekspektasi pada respon orang lain dan membandingkan dirimu. Kamu nggak perlu berharap pada respon pendengar. Nggak perlu menargetkan mereka paham semua atau mereka terhibur semua. Pokoknya hal pertama yang harus kamu capai itu kamu berani berbicara dengan nyaman.
Setelah semuanya terlewati, kamu bisa melihat rekaman latihan atau rekaman pertama mu sebagai speaker dan koreksi bagian mana yang tidak sesuai dengan ekspektasimu. Alih-alih berpikir, 'aku memang nggak cocok jadi pembicara' akan lebih bijak kalau kamu berpikir, 'ini sudah lebih baik karena aku sudah berani berbicara. hanya kurang di bagian ini dan ini harusnya aku seperti ini. Aku akan berlatih lebih giat lagi'.
Beberapa penulis biasanya lebih keras pada diri sendiri, sulit mengampuni diri dan sulit mengapresiasi diri. Padahal itu baru percobaan pertama tapi penghakiman pada diri sendiri terlalu besar dibandingkan apresiasi pada keberanian yang sudah tumbuh.
Terakhir, yakinlah suatu saat nanti penulis bisa menjadi pembicara yang baik karena banyaknya tabungan kosa kata yang tidak dimiliki oleh pembicara lain atau pendengar lain. Hubungan menulis dan membaca sangatlah dekat. Masalahnya hanya penulis tidak terbiasa berbicara. Ini bukan kesalahan yang fatal karena berbicara adalah skill yang bisa diasah dan itu pilihan personal.
Lebih penting dari itu penulis haruslah terus menulis. Perkara nanti harus promosi tulisannya dengan cara apa, jangan jadikan itu alasan untuk berhenti menulis.
Pokoknya jangan berhenti menulis, meskipun rasanya kok gini-gini aja, kok capek, kok nggak ada perkembangan, kok nggak jelas. Apapun itu, jangan berhenti nulis.
Kalau nantinya kamu dituntut untuk pandai berbicara, itu artinya ada step baru yang harus kamu jalani. Step ini hanya akan muncul saat kamu siap. Tenang saja.

Post a Comment for "Apakah Penulis Harus Pandai Berbicara"