Review Buku 9 Summers 10 Autumns, Tentang Kepiawaian Seorang Data Analyst Dalam Merangkai Kata
Penulis : Iwan Setyawan
Penerbit : PT Gramedia Pustaka
Jumlah halaman : 224 halaman
Tahun Terbit : 2011
Rate : 8.5
Arunika - Pernah baca novel yang judulnya Ibuk nggak? Arunika sebenernya udah pernah baca tapi reviewnya belum ditulis kayaknya. Nah, novel 9 Summers 10 Autumns ini ditulis oleh penulis novel Ibuk. Kalau Ibuk berisi perjalanan keluarganya di tanah air, 9 Summers 10 Autumns berisi perjalanan dan kerinduan penulis selama di Negeri Paman Sam.
Beberapa isi yang nantinya bisa kamu simak dari novel ini adalah bagaimana ia merindukan keluarganya, bagaimana ia bertahan hidup serta beradaptasi di kantor, di lingkungan baru, bahasa baru dan melihat kehidupan sekitar yang terus mengingatkannya dengan kehidupan di kampung halaman. Saat membaca 9 Summers 10 Autumns kamu mungkin akan beranggapan kalau buku isi catatan kehidupan atau catatan perjalanan dari seorang laki-laki beruntung dan pintar yang berani mengambil semua resiko untuk mengangkat status sosial keluarganya. Baiklah, sepertinya sudah agak spoiler sedikit biar spoilernya nggak makin panjang mari simak reviewnya.
Sinopsis 9 Summers 10 Autumns
9 Summers 10 Autumns bercerita tentang perjalanan Kang Iwan dalam menempuh pendidikan, mengejar mimpi, meniti karir, hingga keterlibatannya dalam membantu ekonomi keluarga. Dalam novel ini, ada seorang anak kecil yang kemunculannya agak tiba-tiba lalu menjadi sosok penting yang selalu diajak bercerita oleh Kang Iwan. Jadi isi buku ini adalah hal yang diceritakan Kang Iwan kepada anak tadi dan bagaimana ia bertahan hidup di negara asing.
Lewat cerita yang disampaikan ke anak tadi, Kang Iwan menyelipkan sedikit rasa rindunya pada keluarga di rumah. Ia menceritakan dengan pilihan kata lembut dan mendayu-dayu yang menjadikan rasa rindu terasa lebih murni dan berat. Keindahan rindu yang hanya bisa dirasakan oleh para perindu.
Pelajaran berharga yang bisa diambil dari perjalanan hidup Kang Iwan adalah, mimpi apapun yang kamu punya kejarlah, usahakan, raih, sekalipun mungkin awalnya itu terasa tidak nyata, mustahil dan banyak dicemooh orang teruslah berusaha. Mimpi tidak mengenal kelas sosial, pun tidak mengenal etnis dan agama. Terakhir, setiap orang dalam keluarga selalu punya peran penting yang keberadaannya akan membentuk kamu menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Biografi Penulis 9 Summers 10 Autumns
Berkenalan dengan Iwan Setyawan, siapakah beliau ini? Iwan Setyawan lahir di Batu, Malang, Jawa Timur di tengah keluarga yang serba kekurangan. Ia terkenal memiliki kecerdasan yang jauh di atas kakak-kakaknya. Iwan Setyawan pernah kuliah di IPB jurusan Statistika. Lulus dari IPB ia bekerja di Nielsen dan Danareksa Research Institute sebagai seorang data analis terbaik di perusahaan. Berkat ketekunan dan kerapian pekerjaannya, Iwan lantas dipindah ke perusahaan di New York City. Di negara ini, ia bekerja selama 10 tahun lamanya.
Ketertarikan pada dunia sastra dilandasi oleh minatnya pada teater, sastra dan yoga. Ketiga unsur ini membantu Iwan untuk menjadi pribadi yang lebih mampu mengolah rasa dan berbagai kisah lewat cerita.
Iwan lantas meninggalkan New York sekitar tahun 2010, jabatan terakhirnya sebagai Director di Internal Client Management dan masih di perusahaan yang sama.
Buku ini termasuk salah satu buku yang berhasil Iwan rilis. Selain terampil menulis cerita fiksi, Iwan juga senang menulis puisi dan mengambil gambar. Secara tidak sengaja, Iwan berhasil menjadi orang yang banyak menginspirasi para pejuang mimpi yang hampir putus asa Autumn kondisi sosial ekonominya.
Review 9 Summers 10 Autumns
9 Summers 10 Autumns termasuk buku bacaan ringan yang nggak akan bikin kamu berpikir keras untuk bisa menuntaskannya. Membaca 9 Summers 10 Autumns akan terasa seperti membaca diary perjalanan Kang Iwan di Amerika. Semuanya ditulis secara mengalir dengan alur maju yang mudah dipahami, tidak ada istilah asing atau istilah rumit yang menguras energi untuk memahami maksudnya. Berkat gaya tutur yang digunakan Kang Iwan, Arunika kadang merasa seperti sedang bercakap-cakap langsung dengan Kang Iwan.
Buku ini menarik karena mampu menghadirkan unsur kedekatan dengan pembaca dengan menghadirkan beberapa faktor psikologis dengan porsi yang pas.
1. 9 Summers 10 Autumns ditulis berdasarkan pengalaman pribadi. Memang tidak sepenuhnya memotivasi agar kamu mau kerja di luar negeri, tapi buku ini menjadi wadah untuk semua anak rantau yang belum bisa pulang sampai 9 Summers 10 Autumns. Bagaimana beratnya menjadi anak rantau dan apa saja tantangan hidup yang dihadapi, beberapa perasaan yang tertuang di buku ini bisa kamu nikmati dengan sangat nyaman. Hebatnya, penulisnya adalah seorang lelaki yang notabene nya laki-laki jarang berbagi rasa.
2. 9 Summers 10 Autumns ditulis dengan gaya bahasa yang santai atau nggak kaku. Berkat gaya bahasanya yang enak dan ngga bikin mumet, Arunika sempet mbatin 'Kang Iwan punya buku lain nggak ya', paham nggak? Kemampuannya memilih kata wajin diapresiasi, sepertinya Kang Iwan punya banyak bakat bawaan yang jarang dimiliki orang lain.
3. Karena Kang Iwan bukan seseorang yang belajar menulis atau terlibat secara aktif di dunia kepenulisan. Melihat Kang Iwan yang sangat sibuk dan masih sempat menulis beberapa novel menjadi sentilan ringan untuk semua penulis yang sering membuat-buat alasan agar tidak menulis. Kalau Kang Iwan yang punya jabatan tinggi di perusahaan internasional aja masih sempet nulis, kok kamu nggak bisa?? (Note untuk Arunika!!)
Sejauh yang Arunika tau, novel 9 Summers 10 Autumns sudah dilirik dan difilmkan oleh PH besar Indonesia. Disutradarai oleh Ifa Isfansyah dan telah dirilis sekitar 2013 lalu. Bagaimana ceritanya? Yak, sayang sekali karena kebetulan Arunika belum nonton juga, jadi belum bisa kasih review filmnya.
Buku ini sangat direkomendasikan untuk kamu yang lagi belajar nulis, belajar memahami gaya bahasa dan belajar bercerita lewat gaya bahasa yang sederhana. Pelajaran menulis yang bisa diambil dari Kang Iwan dan karyanya adalah, menulis itu bukan hal sulit, kalau kamu bingung harus menulis apa mulailah dari menulis hal yang jujur, sesuatu yang sulit kamu utarakan secara lisan atau sesuatu yang nggak pernah kamu ceritakan pada siapapun. Luangkan waktu di jam aktif, entah pagi atau malam hari selama 1 atau 2 jam untuk menulis.
Kalau menjadi penulis bukan cita-cita sejatimu, kamu bisa menulis untuk tujuan sharing pengalaman atau pengetahuan, pelepas stres atau curhat. Kamu ngga perlu menyandang titel penulis jika itu bukan apresiasi yang kamu butuhkan.
Sekian review buku 9 Summers 10 Autumns karya Kang Iwan dari Arunika, terima kasih sudah menyimak sampai selesai. See ya.



Post a Comment for "Review Buku 9 Summers 10 Autumns, Tentang Kepiawaian Seorang Data Analyst Dalam Merangkai Kata"