Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review The Power Of Six, Serial Perjuangan Alien Planet Lorien di Bumi

Review The Power Of Six, Serial Perjuangan Alien Planet Lorien di Bumi

Penulis : Pittacus Lore 

Penerbit : HarperCollins

Tahun Terbit : 2015

Kategori : Buku Anak, Fantasi


Arunika - Sebelumnya Arunika sudah pernah nyampein kan kalau Arunika lagi tertarik sama buku-buku fantasi dan bakal berusaha nyelesaiin cerita serial I’m Number Four, nah di kesempatan ini Arunika mau mencicil reviewnya itu tadi. Sebagai informasi singkat, mungkin review ini nggak bakal bahas sinopsis bukunya secara lengkap karena Arunika sudah agak lupa sinopsisnya gimana. Tapi tenang aja, Arunika udah nyatetin poin-poin penting dari buku ini yang bikin Arunika terkesan dan ngerasa semakin tertarik dengan bacaan fantasi.


Informasi singkat lainnya, The Power Of Six ini serial kedua dari karya Pittacus Lore yang bisa kamu nikmati jika suatu saat nanti kamu tertarik menikmati bacaan fantasi. Urutan ceritanya memang nggak dibuat runtut sesuai nomor tokohnya, mungkin Pittacus Lore sengaja biar kamu mau baca semua karyanya. Kalau urutan bacanya nggak sesuai, dijamin kamu bakal bingung mengikuti alurnya. Setiap seri akan berkaitan dengan seri selanjutnya, jadi kalau kamu tertarik bisa nikmati sesuai urutan ya. Baiklah, itu aja informasi singkatnya mari simak review The Power Of Six versi Arunika berikut.


Sinopsis The Power Of Six

Six adalah codename seorang alien wanita cantik yang memiliki karakter dan kekuatan tangguh. Ia punya nama panggilan buatannya tapi lebih akrab disapa Enam. Setelah pertemuannya dengan John dan Sam di sekolah yang berakhir dengan kematian cepan  Jhon, kehancuran sekolah dan menjadi buronan FBI, Enam bersama John dan Sam mulai berusaha mengendalikan dan mengembalikan kekuatan yang ada. Kemampuan pusaka Enam adalah bisa menghilang, telekinesis, bisa mengendalikan udara, kemampuan fisik dan cantik. Kemampuannya sudah jauh diatas John dan sangat loyal pada planetnya Lorien. 


Di tengah situasinya yang merupakan buronan FBI, mereka menemukan fakta menarik soal ayah Sam yang ternyata merupakan salah satu mitra para tetua Lorien setiap kali mereka mendarat ke bumi. Ayah Sam orang yang sangat bisa dipercaya tapi dia diculik oleh Mogadorian dan tidak ada yang percaya soal kehilangannya ini. Fakta tersebut membawa mereka ke ruang rahasia di bawah rumah Sam, tempat ayahnya menyimpan beberapa informasi terkait Lorien dan para pusaka Lorien yang berjuang di bumi.


Sialnya, saat mereka masih sibuk dengan banyaknya informasi baru yang tersedia, mereka justru dikepung oleh Mogadorian. Semua orang mulai sibuk dengan pertempurannya masing-masing hingga salah satu peti dicuri. Pada akhirnya, Enam dan John harus berpisah karena Enam ingin segera ke Spanyol membantu rekan lainnya yang nggak sengaja terkoneksi saat John membuka petinya. Tapi, John dan Sam memilih menjemput peti miliknya karena di dalamnya ada banyak hal yang ingin ia ketahui. Mereka pun berpisah dan saling berjanji akan bertemu di alamat yang sudah ditentukan 3 hari setelahnya.


Review The Power Of Six

Baca sinopsis buatan Arunika pusing nggak? Semoga nggak ya, Arunika berusaha menuliskan apa yang Arunika inget meskipun ternyata urutan kejadiannya jadi agak bias. Kalau rasanya agak kurang nyaman di skip aja bagian sinopsisnya nggak papa. Baiklah, mari mulai reviewnya.


1. Enam Sosok yang Keren

Bayangkan kamu punya teman yang sosoknya kayak Enam, pastinya rasanya aman to. Enam memang sosok yang keren. Kemampuannya memang belum maksimal tapi Enam sudah lebih baik ketimbang John dan dua Numbers lainnya yang ia temui di Spanyol. Di novel ini Enam memiliki satu poin yang ngga dimiliki karakter lain, yaitu pesona pejuang. Ia bergerak bukan tanpa tujuan, semua yang ia lakukan demi mencapai satu visi yaitu mengalahkan musuh dan kembali ke planetnya dengan selamat. Ia cantik dan mematikan, pesona wanita tangguh yang sudah selesai dengan dirinya sendiri jadi semakin menjadikan siapapun yang melihatnya merasa kagum dan ingin berteman dengan Enam. 


Kekuatan, ketangkasan, kemampuan bertarung dan kecantikan Enam membuat orang lain bisa berlindung di balik bahunya. Terlepas dari semua numbers punya pusaka masing-masing, pusaka dan ketangkasan Enam bisa bekerja sangat maksimal. Dia nggak merasa direpotkan, nggak merasa lebih unggul dan bersedia bekerja sama dengan anggota lainnya. 


Pengembangan Ceritanya Unik

Ini poin yang Arunika rasakan banget saat membaca seri The Power Of Six. Sesuai judulnya, Arunika mengira seri kedua ini akan fokus pada pengembangan cerita si enam aja. Di seri sebelumnya, Enam sebenarnya digambarkan sudah lumayan kuat ditambah lagi seri kedua yang membahas khusus mengenai powernya si Enam. Arunika sudah menyiapkan diri akan menyaksikan baku hantam si Enam dengan para Mog, tapi ternyata cerita seri ini dimulai dari kisah nomor 7 yang menderita di dalam biara. Ia tidak dilatih layaknya ksatria Lorien karena cepannya merasa sangat sulit hidup di bumi. Dia ingin sedikit menutupi dan menola fakta soal mereka yang seorang pejuang.


Gara-gara opening itu, Arunika sampe beberapa kali memastikan ini seri yang bener apa bukan kok rasanya ceritanya nggak nyambung. Ternyata memang begitulah konsep ceritanya, Pittacus Lore memunculkan setiap number dengan kisah berbeda di setiap seri sampai akhirnya mereka bisa berkumpul seluruhnya. Di setiap seri biasanya akan ada dua perspektif yang dipakai, karena itu Enam yang awalnya bareng John pindah ke Spanyol, karena ada kisah Marina si Nomor Tujuh dan Ella si Nomor Sepuluh yang mau disorot.


Belajar Berjuang Di Atas Kaki Sendiri


Gimana rasanya kalau kamu nggak punya orang lain selain diri kamu sendiri dan ada tanggung jawab besar yang harus dipikul. Kamu nggak punya pilihan selain terus berjuang, terus berlatih, terus bertambah kuat, teru berkembang dan mengalami berbagai rasa kalah yang nggak terbendung ukurannya. Belajar berjuang di atas  kaki sendiri bukan hal yang mudah, Enam menjelaskan situasi dan tanggung jawabnya yang sangat besar tanpa mengeluh padahal kalau mereka gagal nasib seluruh bangsa dan planetnya akan hilang selamanya. 


Poin ini rasanya sangat berat buat Arunika karena Arunika selama ini ngerasa nggak pernah berjuang sebaik para pejuang ini. Arunika memang ngga membela planet atau berjuang melawan monster jahat, tapi secara nggak langsung Arunika menyamakan perjuangannya dengan perjuangan belajar. Poin ini bukan review tapi pelajaran yang Arunika serap dari pesan yang tersirat. Setelah dipahami lebih dalam, ternyata konsep ini berlaku untuk semua hal yang sedang diperjuangkan dalam hidup. Untuk kondisi Arunika sekarang adalah memperjuangkan karir.


Enam dan teman-temannya memang punya privilage kekuatan yang beda dari kekuatan makhluk bumi tapi dia mereka juga punya musuh yang kekuatannya lebih besar dari mereka. Artinya privilage itu memang berguna tapi berjuang dan melatih skill nggak boleh lupa. Mengejar karir juga gitu, mungkin sekarang Arunika sudah menemukan wadah yang bikin Arunika nyaman bisa menulis disini tapi Arunika masih harus berjuang melawan rasa malas, belajar teknik promosi, mencari pembaca loyal dan memastikan konten yang dibuat bisa menarik perhatian publik. Sebagai seorang pejuang, Arunika harus berpikir berbeda dari biasanya. 


Ini pesn yang berat sih.


Pengembangan Karakter yang Nyaman dan Bisa Diterima

Kalau di seri ini, pengembangan karakter Enam adalah yang paling nyaman dan paling bisa diterima. Jhon, Sam dan Barnie Koshar berada digolongan yang sama, secara personal Arunika agak kurang suka dengan karakter Empat sih. Sosoknya terlalu egois dan sulit mengendalikan diri. Dia hanya melihat dan memperjuangkan apa yang menurutnya benar dan kadang  pikirannya ini menyebabkan bias yang agak tidak terduga, merepotkan dan egois.


Nah, hebatnya Pittacus Lore ini karakter utama setiap pemeran itu bisa dibuat stabil gitu. Di seri satu, Empat terasa sangat menyebalkan dan sok ganteng. Sampai seri dua pun karakter utamanya masih nggak berubah. Kamu bisa menikmati rasa sebal yang terus bertambah setiap kali karakter ini muncul, dan entah kenapa kalau Empat terpilih jadi yang terkuat itu rasanya nggak terima aja gitu.


Tapi, Arunika juga sadar kok ini memang konsep cerita. Sejak awal semuanya didesain dengan sikap dan sifatnya yang sangat manusiawi. Meskipun mereka alien, mereka tetap memiliki kekurangan seperti manusia. Karakter dan sikapnya pun mirip manusia, ada kemungkinan suatu saat karakter mereka bisa agak berubah sedikit.


Fokus Pada Satu Tujuan

Terakhir, adalah bagimana Enam bisa fokus pada satu tujuannya sejak ia tiba di bumi sampai masa-masa perjuanganya tiba. Kalau jawabannya itu karena Enam sudah dewasa, kayaknya itu jawaban yang kurang logis sih. Bukannya semakin dewasa hal yang dipikirkan jadi semakin banyak? Hal ini juga berlaku bagi pejuang Lorien tapi Enam dengan berbagai kelebihannya bisa fokus pada satu tujuan dan terus berkembang dari waktu ke waktu.


Kurang lebih, itu aja yang mau Arunika bagikan soal The Power of Six ini. Terima kasih sudah menyimak sampai selesai sampai jumpa di review selanjutnya. 

Post a Comment for "Review The Power Of Six, Serial Perjuangan Alien Planet Lorien di Bumi"