8 Penyebab Malas Nulis yang Harus Dihindari Para Penulis Pemula
Arunika - Menjadi penulis itu nggak seenak kelihatannya. Apalagi penulis yang baru meniti karir, masih belum tau langkahnya gimana, harus apa, masa depannya belum terjamin dan lain sebagainya. Ada banyak bayang-bayang kegagalan yang mengikuti penulis pemula. Sampai akhirnya, menjadi penulis selalu tertanam di pikiran tapi action nya masih nggak jelas harus gimana.Ini situasi yang sangat umum banget sih. Apalagi kalau situasi ini ditambah keadaan keuangan yang menjepit, cicilan menunggak, bayaran semesteran yang sudah mepet waktu atau harga beras yang semakin naik dari waktu ke waktu. Wajar banget kalo penulis jadi semakin ragu-ragu pada karirnya yang masih abu-abu.
Apakah ini termasuk salah satu penyebab malas nulis? Iya. Untuk orang yang menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama, tempat bergantung dan mengais rezeki, situasi gamang seperti ini jelas mematahkan semangat. Tapi hebatnya, bukan cuman satu ini aja masalah penulis yang bikin malas nulis. Arunika pengen bahas ini secara singkat aja ya, berikut ulasannya.
8 Penyebab Malas Nulis yang Harus Dihindari Para Penulis Pemula
1. Tidak PD pada tulisan sendiri
Sebagai penulis muda, kamu pernah ngga sih membanding-bandingkan tulisanmu dengan tulisan orang lain. Misalnya, ada tulisan yang judulnya keren banget itu kamu mbatin 'ih kok bisa ya mereka bikin judul keren gini.'Atau saat baca artikel penulis lain, kamu mbatin 'kapan ya tulisanku bisa sebagus ini juga?'
Atau saat kamu baca cerpen, baca novel dan produk sejenisnya, kamu mbatin 'keren banget ya orang-orang yang bisa nulis cerita gini.'
Kebiasaan mbatin dan mengagumi karya orang lain seperti ini bisa memupuk rasa ngga percaya diri kamu. Rasanya wajar kalo kamu ngerasa skill mu belum sebaik orang lain, tapi jangan jadikan itu alasan untuk berhenti menulis.
Hal yang harus kamu lakukan adalah memanfaatkan perasaan itu untuk bangkit dan menjadi lebih baik dari semua orang yang pernah kamu rasani.
Jangan mudah menyimpulkan kamu nggak berbakat atau sejenisnya. Kamu hanya baru memulai bukan nggak berbakat.
2. Kurang ide
Masalah kurang ide hampir dialami semua pekerja kreatif. Ide memang ngga terbatas, tapi kadang para pekerja kreatif ini punya selera tersendiri yang ingin dituangkan ke dunia fisik. Nah biasanya kurang ide itu berawal dari situasi seperti ini.Sejauh yang Arunika tau, kurang ide itu hal yang wajar dan umum. Situasi yang lebih tepatnya mungkin, kamu hanya nggak menyadari ide yang muncul bukan kurang ide. Atau kamu punya standar tinggi soal ide ini harus seperti apa, jadi percikan lain yang muncul seringkali kamu anggap bukan ide.
Solusinya bagaimana? Pertama jangan terlalu pilih-pilih. Semua hal bisa menjadi ide ketika kamu mau menerimanya. Ide bukan sesuatu yang sangat spektakuler atau sangat berbeda dari biasanya. Hal yang membedakan satu ide dengan ide lain adalah ciri khas penciptanya. Jadi terimalah ide yang muncul. Apapun itu, asalkan ngga melanggar norma dan HAM, itu ngga papa.
3. Niat kurang kuat
Niat yang kurang kuat ini bisa disebabkan oleh banyak hal, salah satunya sudah Arunika jelaskan di opening tadi. Menjadi penulis bukan profesi yang instan dan ya agak abu-abu juga, mengingat pekerjaan ini berkaitan dengan bidang kreatif. Nggak ada jaminan apapun, beda dengan karyawan kantor atau pegawai negeri yang setiap bulannya ada jaminan.Lalu apa yang bisa dilakukan untuk menyiasati niat yang kurang kuat ini? Pertama, singkirkan harapan kamu bisa sukses dalam waktu singkat. Proses tetaplah proses, nggak ada shortcut yang bisa dipilih untuk memudahkan jalannya.
Kedua, jadikan menulis sebagai kegiatan rutin yang nggak boleh terlewat sehari pun. Jadikan menulis sebagai kebutuhan, kayak kamu butuh makan untuk bertahan hidup, kamu butuh menulis untuk bertahan hidup.
Ketiga, jangan berekspektasi apapun karena karir ini butuh usaha panjang.
4. Pesimis
Wajar nggak kalo penulis pesimis? Wajar banget. Tantangan yang dihadapi setiap penulis itu beda. Semakin rumit tantangannya maka potensi menyerah akan semakin besar. Arunika cuman bisa bilang, kalo prosesnya bikin lelah, istirahat dulu nggak papa. Jalan-jalan, kulineran, hiking, berenang atau melakukan hal lain yang bisa merileks kan tubuh.Kalau capeknya sudah hilang, mulai lanjut nulis lagi. Btw, istirahatnya jangan lama-lama ya karena kalau terlalu lama kamu bisa terlena.
5.Kurang informasi
Penulis blog biasanya mengalami ini, atau hampir semua penulis mungkin pernah mengalami kekurangan informasi. Lebih sulit daripada kurang ide, kurang informasi bakal bikin kamu terasa mentok, nggak tau mau ngapain lagi.Penyelesaian kurang informasi jelas lebih mudah ya. Kalau kamu beneran ngerasa kurang informasi, maka penyelesaian terbaiknya adalah gali informasi lagi. Jangan malas bergerak dan jangan turunin standar tulisanmu, kecuali kalo informasi yang kamu cari emang beneran nggak ada.
6. Sering menunda pekerjaan
Menunda pekerjaan rasanya enak banget ya, Arunika juga suka gitu tapi ujung-ujungnya yang rugi ya diri sendiri. Menunda pekerjaan bikin kamu jadi bersikap agak leha-leha, santai dan akhirnya kebablasan dan males.Poin leha-leha, santai dan kebablasan ini lah yang bahaya. Oleh karena itu, sebisa mungkin usahakan jangan menunda pekerjaan.
Apapun itu, menunda cuman bakal bikin kemampuanmu tumpul.
7. Bad Mood
Nulis berdasarkan mood, emang boleh?Ya nggak kalo kamu penulis profesional tapi kalo kamu masih di level belajar, nggak papa, asalkan nggak sering.
Mood memang bukan hal yang mudah dikendalikan, tapi bukan berarti nggak bisa dikendalikan.
Kamu bisa belajar pelan-pelan untuk nggak memenuhi ego atau mood kamu aja. Selesaikan apa yang menurutmu harus diselesaikan.
Di tahap ini kamu akan belajar lebih bertanggung jawab pada pekerjaan dan pilihan yang sudah kamu buat.
8. Bosan
Siapa sih yang nggak bosan, tiap hari dari waktu ke waktu duduk di depan komputer atau laptop, ngetik-ngetik, baca, gitu terus tiap waktu?Pertanyaan lainnya, pekerjaan apa yang nggak mengulang-ulang terus kayak gitu?
Nggak cuman nulis, kerjaan apapun butuh pengulangan yang nggak sedikit. Contohnya, pedagang soto ayam, pekerjaannya gitu-gitu aja dan tetap dilakoni terus karena ya itu pekerjaannya.
Bosan itu wajar tapi itu bukan alasan berhenti.
Kalo kamu bosan nulis di kantor, pindah nulis di cafe, bosan nulis di rumah, pindah nulis di kampus, bosan nulis pake laptop, coba nulis pake hp. Pokoknya anggap bosan itu cuman bagian dari perjalanan kamu meniti karir sebagai penulis, bukan alasan untuk berhenti menulis.
Oke, segitu aja ulasan kali ini dari Arunika, sampai jumpa.





Post a Comment for " 8 Penyebab Malas Nulis yang Harus Dihindari Para Penulis Pemula"