Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Film The Kindergarten Techer Film 2018

The kindergarten teacher
Sutradara : Sara Colangelo
Genre : Drama
Tahun Rilis : 2018
Rate : 8

Arunika -  Sebelum nonton film The Kindergarten Teacher, Arunika sempet ragu kaena ratenya kurang dari 7 dari IMDb. Arunika sempet mikir mungkin ini film yang membosankan atau ceritanya kurang kuat, jadi rate yang diberikan nggak terlalu tinggi. Tapi setelah nonton langsung ternyata Arunika punya penilaian berbeda soal film ini.

The Kindegarten Teacher menyajikan lebih dari sekedar cerita guru TK yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar bersama anak-anak. Lebih dari itu, film ini berusaha menunjukkan kalau guru TK adalah manusia dengan segudang persoalannya. Ceritanya kompleks dengan komponen masalah yang kemunculannya bertahap tapi teratur, jadi kalo diakumulasi hasilnya berat. 

Segitu aja openingnya, Arunika mulai ya reviewnya.

Sinopsis The Kindergarten Teacher Film 2018

The Kindergarten Teacher merupakan film yang menceritakan tentang seorang guru TK bernama Lisa yang terobsesi pada puisi dan seni. Lisa menjalani kehidupan normal yang serba cukup, ia punya suami yang menyayanginya, tiga anak yang tumbuh dengan baik, rumah yang nyaman, bisa mengikuti kelas puisi untuk menyalurkan hobinya dan bisa bekerja. Secara umum, kehidupan Lisa sudah cukup memuaskan tapi ternyata ada hasrat besar yang menaungi Lisa.

Lisa sangat terobsesi dengan puisi dan ingin bisa menjadi penulis puisi yang baik. Secara umum Lisa ingin menjadi penulis yang baik, sayangnya bakatnya tidak sebesar keinginannya. Ia kurang mampu mengenali dirinya sendiri sehingga puisiny terasa kosong dan kurang penghayatan. 

Di tengah kebingungannya dengan proses penghayatan itu, Jimmy salah satu murid Lisa tiba-tiba menggumamkan puisi yang entah darimana munculnya. Berbeda dengan Lisa, kemampuan Jimmy alami. Puisinya dicatat Lisa dan dibacakan di kelas Puisi yang Lisa ikuti. Puisi Jimmy diapresiasi dengan layak, dan untuk pertama kalinya Lisa mendapatkan penerimaan dan merasa lebih dihargai. 

Meski alasannya sangat sederhana, hal ini ternyata justru menjadikan Lisa terobsesi pada Jimmy. Ia mulai memperhatikan Jimmy secara khusus dan meminta orang-orang di sekitar Jimmy mendukung bakatnya. Sayangnya, obsesi Lisa mulai keterlaluan. Secara nggak sadar Lisa mulai mendobrak banyak norma dan etika sebagai guru. Dalam pikirannya, Lisa berusaha memberikan kehidupan yang layak untuk Jimmy dan ternyata bukan itu yang ia butuhkan. 

Review Film The Kindergarten Teacher

Film The Kindergarten Teacher ini menyelipkan banyak isu yang umumnya memang dihadapi manusia, bukan cuman wanita. Pokok persoalannya ada di masalah yang bertumpuk dan nggak diselesaikan. Bias sosial dan bias kognitif yang muncul pada diri Lisa bisa dianggap sebagai ledakan tak terbendung dari tumpukan persoalan dan keinginan yang ada. Lisa sudah terjerat dalam ilusinya sendiri sejak ia menunjukkan obsesi tidak wajarnya pada Jimmy. 

Rangakaian peristiwa ini terasa menarik karena masalahnya relate sama kehidupan manusia, apalagi untuk yang sudah menikah. Ada satu masalah pemicu utama yang dimiliki Lisa dan beberapa masalah pendukung yang menjadikan dirinya semakin kehilangan identitas diri, beberapa masalah tersebut adalah:

1. Mimpi yang belum tercapai

Sejak babak pertama, identitas Lisa sebagai siswa kelas puisi, guru tk, ibu dan istri sudah dijelaskan secara gamblang. Ia mengikuti kelas puisi di usianya yang sudah terbilang cukup berumur. Semangat belajarnya tinggi dan ia serius mencintai puisi. Masalahnya, kemampuannya tidak sebaik itu. 

Ada banyak kemungkinan yang dialami Lisa di masa mudanya. Kalau dilihat dari obsesi dan perhatiannya pada bakat Jimmy, sepertinya Lisa di masa muda tidak diberikan ruang untuk belajar dan berekspresi. Mungkin sebelumnya Lisa adalah wanita muda  yang berbakat dan pintar meramu kata, tapi karena keinginannya tidak didukung dan minim kesempatan, keinginannya jadi tidak bisa disalurkan dengan rapi.

Hal yang tidak disadari Lisa adalah, keinginan itu ternyata masih ada dan masih menggebu-gebu. Secara nggak sadar, Lisa masih mengingatnya dan berusaha mencapainya. Sayangnya, langkahnya terasa tidak panjang lagi. 

2. Bakat yang kurang terasah

Nggak tau apakah ini bisa disebut sebagai bakat yang kurang terasah atau memang bakatnya bukan sebagai penulis. Kecintaan dan partisipasi Lisa dalam dunia puisi sangat besar. Sebagai seorang guru TK, Lisa bahkan rela menghabiskan lebih banyak waktunya untuk memperhatikan Jimmy yang punya bakat lebih. Alasannya, katanya, Lisa tidak ingin Jimmy hidup seperti Lisa yang terhapus dari masyarakat. Tapi, tindakannya jadi agak serampangan bahkan Lisa dinilai melecahkan karya seni. 

Apakah ini karena Lisa kurang berbakat atau Lisa memang berbakat tapi kurang diasah? Nggak tau jawabannya apa, yang jelas Lisa gagal mewujudkan mimpinya, nggak bisa mengembangkan bakatnya dan jadi kehilangan akal sehat. Intinya, kurang memberikan ruang untuk mewujudkan mimpi ternyata berdampak buruk bagi perkembangan mental.

3. Keluarga yang kurang harmonis

Menurut Arunika, Lisa sebenarnya punya suami yang suportif. Ia memberikan ruang untuk Lisa bekerja dan ikut kelas menulis. Ia bahkan menanyakan dan membacakan puisi buatan Lisa, tapi memang Lisa keliatan agak kurang respect pada perhatian suami. Sikapnya agak sedikit acuh.

Sisi kurang harmonis lainnya adalah anak-anak Lisa yang sangat cuek dan agak kurang mampu berbicara dengan orang tua. Sebagai seorang guru TK, Lisa jelas mempunyai kemampuan berbicara yang mumpuni, tapi sikapnya ini tidak disambut baik oleh anak-anaknya.

Apa ya, anak-anaknya ini seperti mewarisi gen Lisa. Lisa sangat terobsesi pada mimpinya, keinginannya, hasratnya ya apapun itu pokoknya hal yang berkaitan dengan Lisa. Anak-anaknya juga gitu. Mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri yang nggak bisa dicampuri orang lain, termasuk Lisa.

Ia kewalahan menghadapi copy-paste dirinya dan merasa kalau dia tidak didengarkan. 

4. Kurangnya pengakuan dari lingkungan sekitar

Sepanjang film ini, kamu akan melihat bagaimana seorang wanita dengan segala upayanya untuk bangkit tapi cuman di pandang sebelah mata bahkan nggak terlihat. Ya sebenarnya ngga sejahat itu, masih ada suaminya yang supportif tapi inget kan Lisa ngga begitu memperhatikan suaminya. Lisa terlau sibuk dengan dunianya sendiri dan dia hanya fokus pada pengakuan orang lain selain suaminya. Akhirnya, Lisa jadi merasa kalau dia kurang diapresiasi.

5. Penolakan

Ada banyak penolakan yang Lisa dapatkan dari banyak pihak. Pertama dari anak-anaknya, apapun usaha Lisa mendekati anak-anaknya seperti kurang digubris atau mungkin bahasa cintanya agak beda? nggak tau lah, pokoknya anak-anaknya kurang tertarik dengan cara Lisa.

Kedua dari Jimmy, murid kesayangannya yang pintar menciptakan puisi itu ternyata menjadikan rekan kerja Lisa inspirasi salah satu puisinya. Lisa berupaya memberikan yang terbaik untuk Jimmy (meskipun itu bukan hal yang Jimmy minta) tapi ternyata ada orang lain di pikiran Jimmy.

Ketiga dari guru puisinya, ia secara total ditolak dari kelas puisi setelah guru puisinya tau kalo puisi yang selama ini Lisa bawa ke kelas adalah puisi buatan Jimmy bukan buatan Lisa. Guru puisi Lisa menganggap tindakan Lisa tercela dan secara nggak langsung melecehkan Jimmy sebagai pemilik asli puisinya. 

Keempat dari orang tua Jimmy, sebenarnya hal yang dilakukan Lisa memang salah tapi penolakan orang tua Jimmy kayaknya nggak masuk dalam perhitungan Lisa. Dalam pikiran Lisa, ia berusaha memberikan yang terbaik menurut versinya sendiri. 

Nah, masalah yang bertumpuk-tumpuk ini muncul untuk semua peran yang ia mainkan di lingkungan sosialnya baik sebagai ibu, istri dan guru. Jadi rasanya kemana pun Lisa pergi, rasanya seperti kesalahan, penolakan dan masalah. 

Kenapa rate Arunka untuk film ini tinggi? Karena Sara sebagai sutradara mampu menyampaikan cerita dan masalah yang ada tanpa membuat penonton merasa pusing mengikuti alurya. Film ini mengajak penonton berefleksi lebih jauh dan berpikir lebih matang sebelum bertindak. Ada banyak sudut pandang yang disajikan disini dan penonton bisa bebas memilih sudut pandang siapa yang ingin digunakan. 

Berkat gaya bercerita dan teknik pengambilan gambar yang dipakai, penonton bisa melihat emosi dari setiap karakter yang terlibat. Penonton bisa bebas menginterpretasikan maksud gambar tertentu di adegan tertentu dan scene tertentu. Alhasil, akan ada banyak adegan yang melekat dibenak penonton sekaligus ada banyak perspektif yang bisa dipakai saat akan mengambil keputusan. 

Poin yang mungkin agak miss dari film ini adalah resolusi cerita dan endingnya, karena endingnya si Jimmy mengatakan kalau dia punya puisi, ini rasanya agak miss aja dipemahaman. Apakah di bagian akhir film ini, Sara ingin menunjukkan bahwa Lisa berhasil menjadi guru TK yang mengarahkan mimpi anak muridnya? atau menjadi guru TK yang berhasil mendengakan dan mengembangkan bakat muridnya? atau menjadi guru TK yang berkesan bagi muridnya? 

Sebagai guru TK, upaya yang ia lakukan untuk Jimmy memang nggak main-main. Jimmy secara khusus mendapatkan kesempatan yang jarang didapat anak seusianya. Lisa bahkan mempertaruhkan statusnya untuk menunjukkan kemampuan Jimmy. Ia kehilangan kesempatan belajar puisi tapi berhasil memberikan kesempatan belajar dan pengalaman yang berkesan untuk Jimmy. 

Apakah akhir dari film ini menunjukkan keberhasilan Lisa sebagai seorang guru? Bisakah itu disebut keberhasilan kalau sikapnya didasari oleh obsesi?

Entahlah.

Arunika senang dengan akhir yang membuat bertanya-tanya seperti ini. Sudah Arunika jabarkan, film ini mengajak kamu untuk bebas berinterpretasi. 

Terlepas dari semua keadaan di film, pesan moral yang bisa diambil adalah jangan gegabah, setiap langkah ada prosedurnya. Niat yang baik pun bisa disalah artikan saat kamu bergerak sembarangan. Apa yang menurutmu baik akan dinilai salah ketika kamu nggak mampu menyampaikannya secara terukur dan terstruktur.  

Itu aja yang bisa Arunika share dari film The Kindergarten Teacher. Arunika rekomendasiin film ini untuk kamu yang lagi bingung dengan keinginan dan mimpi yang belum tercapai, juga buat para ibu yang berusaha mengarahkan anaknya menjadi sosok yang ibu mau. Monggo, dinikmati sambil minum es teh manis di jam menjelang tidur. Terima kasih.

Post a Comment for "Review Film The Kindergarten Techer Film 2018"