5 Ide Cerita Tentang Mimpi Lengkap dengan Premisnya

Menulis mengikuti tema yang diberikan memang bentuk profesionalitas tapi bukan berarti kamu nggak profesional. Cara kerjanya aja yang agak beda. Daripada pusing mikirin ide cerita untuk tema-tema tertentu, Arunika punya tips untuk menyiasati momen kayak gini. Ini bukan life hack atau writer hack dari profesional ya, ini murni tips yang menurut Arunika efektif aja gitu.
Nah, selain tips mengatasi ide macet tadi Arunika juga mau share beberapa ide menarik yang bisa kamu kembangkan menjadi cerita utuh untuk tugas atau pekerjaanmu. Ide-ide ini bakal Arunika share lengkap dengan premisnya, tapi inget Ide dan premis yang Arunika bagikan jangan dicopy mentah-mentah. Nantinya artikel ini bakal dibaca banyak orang, untuk menghindari masalah plagiasi disarankan untuk mengganti beberapa bagian premis agar menjadi cerita yang authentik dan khas kamu. Dan di artikel ini Arunika mau berbagi ide cerita serta premis bertema mimpi, simak sampai selesai ya.
Tips Menulis yang Efektif Versi Arunika
Tips menulis ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi, kamu bisa adaptasikan dengan kehidupanmu. Apakah ini 100% efektif? Nggak juga, tapi setidaknya dengan pelajaran yang diambil dari setiap pengalaman, Arunika akhirnya bisa menemukan langkah yang efisien untuk menulis versi Arunika.
1. Kenali Jadwal Harianmu
Namanya jadwal pasti ada keteraturan dan pola yang terbentuk di dalamnya. Se semrawut apapun jadwal harianmu, kalo dilihat dari sudut pandang yang lebih luas biasanya polanya akan ketemu. Perhatikan pola jadwal harianmu ini, lalu susunlah rencana.
Untuk menyusun rencana, kamu harus memprioritaskan sebagian besar waktu yang kamu miliki pada satu bidang. Misalnya, Arunika ingin jadi penulis maka jatah menulis yang harus Arunika cukupi setiap harinya adalah 2 jam untuk menulis. Ini wajib dilakukan, terserah kapan waktunya yang penting 2 jam. Dan pastikan waktu yang kamu pilih nggak mengganggu aktivitas lainnya.
2. Pastikan Untuk Selalu Mencatat Ide
Kemunculan ide itu agak tidak terduga dan nggak kenal tempat, kadang ide muncul saat lagi melamun, saat nonton film atau video, saat marah, saat makan, saat berada di kamar mandi, saat menjelang tidur, saat buang air atau saat sedang di perjalanan. Kapanpun ide itu muncul, pastikan untuk selalu mencatatnya. Kalo momennya nggak pas, diinget-inget dulu idenya sampe kamu bisa ketemu alat pencatat yang pas.
Ide bisa muncul dalam bentuk apa saja, bisa potongan percakapan, potongan suasana, premis, objek, kejadian atau musik. Apapun itu, pokoknya catat aja dulu. Usahakan kamu punya note khusus untuk mencatat ide dan usahakan setiap ide yang muncul dibuat temanya. Tujuannya kalo sewaktu-waktu ada tugas atau lomba yang ingin diikuti, kamu cukup cari berdasarkan tema aja.
3. Jangan Dikerjakan Mepet Deadline
Dear kaum-kaum deadliner, please jangan ngerjain mepet waktu karena kamu jadi nggak bisa mengedit atau membaca ulang tulisanmu sendiri. Kamu nggak bisa cek mana yang perlu dihilangkan, diganti atau ditambahkan. Kamu juga nggak boleh bekerja sebagai penulis dan editor di waktu yang bersamaan. Alasannya jelas karena tindakan itu bakal bikin karyamu jadi nggak maksimal.
Saat kamu menjadi penulis, perspektif yang kamu gunakan pastinya berkaitan dengan ide tulisan, alur, karakter, pengembangan konflik dan cerita. Sebagai editor, kacamata yang kamu pakai lebih luas dan lebar. Kamu nggak bisa mencampuri ide dasar yang dibuat penulis. Nah, kalau pekerjaan ini dilakukan berbarengan kamu akan kesulitan memahami batas tugas dari dua pekerjaan itu. Akhirnya tulisanmu ngga maksimal, ada typo yang nggak ketahuan dan alur cerita yang buyar.
Kerugian yang bakal kamu dapet jadi semakin berlipat-lipat padahal kamu ingin lebih serius di bidang ini, kan? Nggak papa kalo kamu mau ngirim karyamu mepet tanggal atau bahkan saat deadline aja, tapi ngerjainnya tetap harus dari jauh-jauh hari agar kamu bisa lebih leluasa mempelajari taktik menulis yang kamubutuhkan.
5 Ide Cerita Tentang Mimpi yang Lengkap dengan Premisnya
1. Tentang mimpi sebagai bunga tidur
Mimpi sebagai bunga tidur termasuk pemahaman yang sudah disepakati secara umum. Kamu bisa mnggunakan konsep umum ini untuk dikembangkan jadi ide cerita menarik. Salah satu drama Korea yang mengembangkan cerita tentang mimpi sebagai bunga tidur ada While You Were Sleeping, drama ini lumayan populer kayaknya.
Ide cerita yang mau Arunika tawarkan disini adalah tentang seorang anak yang menggunakan cerita dalam mimpinya sebagai inspirasi dalam menulis karya. Beda dengan mimpi orang-orang lain, anak ini bisa memimpikan satu topik yang sama sampai jadi rangkaian cerita utuh. (Paham nggak?)
Ini bukan lucid dream yang bisa dikendalikan dan bergerak sesuai kebutuhan si pemimpi. Anak ini memang punya kemampuan yang agak beda dari orang-orang. Awalnya dia nggak tau fungsi kemampuannya untuk apa, tapi karena perspektif yang di mimpi itu menarik ia coba-coba menuliskannya dan ternyata karyanya bisa diterima publik. (sampe sini paham?)
Premisnya adalah : "Nanda memiliki kemampuan khusus yang mendukung karirnya menjadi penulis tapi dia terlalu sibuk dengan mimpinya sampai tidak sempat membaca buku lagi, karena ketelodarannya Nanda dituduh plagiasi dan karya-karyanya mulai diragukan."
Kalau mau ganti poin masalahnya, kamu harus menyesuaikan kebutuhan si tokoh utama ya. Kalo dicontoh premis tadi, Nanda sebagai tokoh utama karirnya adalah penulis dan untuk menjadi penulis yang baik dia harus banyak baca buku tapi Nanda malah terlena oleh mimpi dan kepopulerannya. Akibatnya tulisan-tulisannya jadi tidak berkualitas dan kosa katanya terbatas.
Intinya tentukan pasangan dari situasi yang kamu pilih untuk pengembangan ceritamu.
2. Mimpi sebagai mimpi
Mimpi sebagai mimpi artinya mimpi diposisikan sebagai objek abstrak yang tidak membutuhkan cara khusus untuk menyikapinya. Kalo bahasa simplenya, 'yang namanya mimpi ya mimpi aja, nggak usah dipikirin.'
Konsepnya terkesan sederhana kan, tapi pernah nggak kamu kepikiran kalo konsep sederhana kayak gini bisa dijadikan cerita?
Nah, untuk mewujudkannya kamu butuh satu tokoh utama yang punya sikap tegas dan pendirian kuat. Kamu bisa pilih, tokoh utamamu adalah karakter yang sangat percaya mimpi, yang biasa aja sama semua mimpi atau tipe yang kalo inget ya dipikirn kalo nggak ya udah.
Ide dari Arunika, mimpi sebagai mimpi ini dibuat dari perspektif orang tua yang suka memaknai mimpi tapi ngga suka membagikannya ke orang-orang. Dia bukan ahli nujum tapi senang mencatat setiap mimpi yang diingatnya ketika bangun tidur lalu memaknainya. Kebiasaan ini ia lakukan bukan sebagai kegiatan penyalur emosi, ia melakukannya hanya karena semua peristiwa dan pengalamannya itu hanyalah mimpi yang mungkin akan dilupakan.
Premisnya adalah : "Seorang bapak yang selalu mencatat semua mimpi yang diingatnya setelah bangun tidur tiba-tiba kehilangan buku catatannya. Ia menjadi sangat kehilangan dan sedih hingga akhir hayatnya."
Kalo dilihat dari premis ceritanya, mungkin cerita ini akan berisi nasehat dan pemahaman yang bijak soal sesuatu yang dimiliki manusia, apa yang tidak terlihat mata dan tentang kehilangan. Kamu harus hati-hati mengemasnya, karena perpektif yang dipakai adalah perspektif orang tua yang bijak dan pemikir yang dalam.
3. Mimpi sebagai alat
Pernah nggak denger ada orang yang berantem karena mimpi? Konsep ini menempatkan mimpi sebagai alat untuk menyalahkan orang lain, membela, membuat keputusan atau kepercayaan. Kalo beneran terjadi di dunia nyata, konsep ini mungkin agak merugikan dan menyebalkan, ya ada sisi baiknya juga tapi nggak banyak.
POV mimpi sebagai alat bisa kamu gunakan untuk membuat cerita perdebatan yang sederhana antara dua pemahaman yang berbeda. Penceritan seperti ini terkesan simple kan, memang! Tantangannya, kamu harus bisa bikin isu yang menarik dan dialog yang efisien. Debat boleh tapi bukan debat panjang dan bukan adu mulut. Dialognya sedikit tapi sederhana dan penuh makna, jadi bisa dibaca oleh semua kalangan.
Premisnya : "Rahma diundang menghadiri rapat majelis untuk menentukan kapan tanggal terbaik melakukan kegiatan bersih-bersih desa. Perwakilan dari setiap penjuru mata angin menjelaskan petunjuk yang mereka dapat dari mimpi masing-masing, hingga terjadilah perdebatan sengit soal waktu terbaik untuk bersih-bersih desa."
Kalau premis ini dipakai, kamu harus menjadikan Rahma pemenang. Jadi keputusan akhirnya ada di tangan Rahma.
4. Mimpi sebagai cita-cita
Siapa nih yang dari tadi udah memaknai mimpi sebagai cita-cita? Ini pemaknaan yang lumrah sih. Arunika pun kalo baca kata "mimpi" ingatnya cita-cita karena itu tadi, lumrah.
Mimpi sebagai cita-cita bukan konsep yang baru, tapi kalo kamu bisa mengemas ceritanya bukan sekedar perjuangan mengejar mimpi aja, mungkin ceritamu bakal menarik. Bukan berarti Arunika memandang sebelah mata para pengejar mimpi ya, jangan disalah artikan.
Umumnya pola yang muncul dari konsep mimpi sebagai cita-cita adalah, kisah anak muda yang menyadari keterbatasannya ingin mendobrak semua hal itu demi mewujudkan keinginannya. Tokoh utama yang sering dipakai adalah anak muda atau dewasa awal, karena dianggap sebagai umur produktif yang masih punya banyak waktu untuk berkarya.
Mimpi sebagai cita-cita sering kali dikaitkan dengan cita-cita keduniaan karena cara mengukurnya mudah dan bisa dilihat mata. Cerita seperti ini populer karena mewujudkan mimpi memang bukan hal mudah tapi kalo kamu pake pola yang sama, nggak ada hal baru yang bisa kamu tawarkan. Paling tokoh dan masalahnya yang baru tapi polanya sama, dan semua akan tau nantinya kisah ini akan berakhir happy ending.
Coba tawarkan ide baru bahwa mimpi sebagai cita-cita ngga melulu soal berhasil menggapai target, tapi proses untuk mencapai. Apakah target bisa tercapai sesuai keinginan atau nggak, itu bukan tujuan akhirnya. Atau mimpi sebagai cita-cita tercapai saat setelah si tokoh utama meninggal. Mimpinya jadi kenyataan tapi bukan dia yang menikmatinya.
Premis yang mau Arunika tawarkan : "Usaha Mamak mengajarkan cucunya yang kidal cara makan pakai tangan kanan tapi waktu hidupnya hanya tinggal menghitung hari saja."
5. Mimpi sebagai halangan
Banyak orang berusaha keras agar bisa mewujudkan mimpinya kan, tapi nggak sedikit lho orang yang membuang banyak kesempatan demi mengejar mimpi. Untuk konsep ini, mimpi terasa idealistik dan agak egois sedikit ya.
Nah, coba tempatkan tokoh utama kamu sebagai seseorang yang sangat yakin kalau suatu saat mimpinya akan terwujud. Jalan panjang yang ia lalui saat ini dipercaya sebagai proses perjalanan yang nggak boleh diakhiri dengan menyerah. Masalahnya, ia nggak tau kalau ternyata keputusannya untuk menolak semua tawaran justru menjadi penghalang kesuksesannya. Dengan dalih mengejar mimpi, ia justru menjadi pribadi yang paling tertinggal ketimbang orang-orang lain.
Seandainya premisnya begini, menurutmu gimana?
"Dena si penjual buku online percaya kalau suatu saat ia akan memiliki toko buku sendiri. Saat ini, Dena sangat fokus pada jualannya dan mengabaikan semua tawaran kerja yang masuk. Masalahnya, hasil penjualan buku Dena belum cukup untuk menutupi kebutuhan pangan hariannya. Ia tidak menyadari itu dan menutup semua kesempatan yang datang."
---
Udah segitu aja 5 ide cerita tentang mimpi yang bisa Arunika bagikan ke teman-teman. Kamu bisa pakai dan ubah sesuai kebutuhanmu ya. Semoga catatan ide ini bisa dipahami sebagaimana mestinya dan berguna bagi kelangsungan karir kita semua kedepannya. Terima Kasih.
Post a Comment for "5 Ide Cerita Tentang Mimpi Lengkap dengan Premisnya"