Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review The Revenge of Seven Karya Pittacus Lore

Review The Revenge of Seven
Penulis : Pittacus Lore

Tahun Terbit : 2015

Genre : Drama Fantasy

Rate: 7.8


Arunika - The Revenge of Seven, karya kelima Pittacus Lore yang dibuka dengan imbauan bahwa kisah ini beneran nyata, nama dan lokasi kejadian disamarkan untuk melindungi keberadaan para garde. Lewat review ini, Arunika ingin mengajak kamu menyelami dunia fantasi Pittacus Lore secara lebih nikmat dan menyeluruh.

Di beberapa bukunya Pittacus Lore juga sudah menyebutkan kalau para karakter yang ada dalam novel ini beneran ada, mereka hanya lagi menyamar aja sambil menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan diri. Pittacus Lore pun nantinya akan muncul, membantu para garde menyelesaikan misi mereka.

Di buku The Revenge of Seven, kamu akan menemukan beberapa jawaban kenapa Pittacus Lore memberikan himbauan soal keberadaan para garde dan tanggung jawabnya. Mari simak review The Revenge of Seven versi Arunika berikut ini.

Sinopsis The Revenge of Seven karya Pittacus Lore

Review The Revenge of Seven
Kematian 8 masih menjadi pukulan terberat bagi 7 atau Marina. Ia menunjukkannya lewat perubahan emosi drastis dan menjadi lebih egois. Marina secara nggak langsung marah pada 9 yang nggak bisa mengontrol mulutnya. Kemampuannya yang baru muncul pun masih belum bisa dikuasai sepenuhnya, apalagi kemampuan ini munculnya karena kemarahan.

Di sisi lain, Marina juga merasa kalau 8 masih ada di rawa. Dia ada bersama Mog dan belum dibinasakan. Keyakinan ini semakin kuat ketika ada seorang manusia yang mengatakan dia sering melihat alien mengambil dan mengangkat barang. Mengikuti petunjuk tersebut, 6,7 dan 9 akhirnya menemukan 8 dan 5 yang ada di dalam bunker Mog. 5 sadar ada beberapa temanya yang masuk jadi dia memberikan sedikit bantuan untuk menebus rasa bersalahnya.

Di tempat lain, 4, Adam, Sam, ayah Sam, para Chimera dan Sarah menyusun rencana tak terduga. Sarah dikirim untuk bertemu Mark, mengawasi dari kejauhan dan menunjukkan pada manusia bahwa mereka ada bukan sebagai penyerang. 4 dan beberapa orang lainnya berencana menyerang markas komandan Mog.

Penyerangan ini memberikan kesempatan bagi Adam untuk menunjukkan kesetiaannya pada Garde dan Lorien, karena penyerangan ini ternyata adalah penyerangan pada ayahnya sendiri. Sebagai seorang mog, Adam sangat ahli memainkan alat-alat. Setelah berhasil mengalahkan ayahnya, Adam mengambil alih ruang kendali. Dan disaat yang sama Enam bersama teman-temannya hampir tertangkap para Mog. Untungnya timingnya sangat tepat jadi Adam bisa langsung menyelamatkan garde lainnya.

Seluruh garde yang terpisah akhirnya bisa bersatu lagi dan menceritakan keadaan masing-masing. Marina menggunakan telekinesisnya untuk membawa 8 kemanapun dia pergi.

Di markas ini ada satu keuntungan yang bisa ayah Sam dapatkan yaitu mereka bisa membongkar data atau rekaman terdahulu. Dari usaha itulah, ayah Sam menemukan jalan keluar selain bertempur melawan mog yang bisa mereka pilih untuk menyelamatkan bumi.

Review The Revenge of Seven

Review The Revenge of Seven
The Revenge of Seven berbeda dengan cerita seri sebelumnya. Tensi di cerita ini ngaak begitu tinggi dibandingkan seri The Fall of Five. Informasi yang dibagikan di cerita ini pun nggak sebanyak seri The Fall of Five.

Di seri kali ini pembaca akan menemukan beberapa masalah baru, seperti waktu perang yang hampir tiba, masalah mental 5 karena sudah membunuh rekannya sendiri, tentang metode mog yang merusak tubuh manusia, tentang perjalanan 6 dan 7 mencari lokasi tersembunyi tempat membangkitkan kekuatan baru dan tentang Ella yang terikat mantra dengan Setrakus Ra.

Secara umum ada banyak masalah yang coba dipecahkan disini. Dan sepertinya Pittacus Lore ingin menunjukkan kalau ini memang perang tapi nggak semuanya tentang adu ketangkasan atau adu kekuatan. Adakalanya para pejuang harus melakukan adu taktik.

Pittacus Lore juga ingin menunjukkan tentang kepercayaan dan kelembutan. 7 sebagai pihak yang paling sedih karena kematian 8 berusaha mengikuti intuisinya. Ia menjadi sosok yang sulit dimengerti dan selalu berkata bahwa dia meyakini sesuatu, seperti menemukan tempat persembunyian energi Lorien menggunakan keyakinannya dan menguburkan 8 di tempat yang ia yakini.

Ada sedikit titik tumpu yang kurang pas untuk Arunika di novel ini. Di satu sisi penyerangan ras Mog ke bumi hampir dilakukan, hampir semua pesawat tempur Mog sudah siap turun dan siap menyerang tapi di sisi lain ada pemecahan masalah lewat jalan yang bukan perang. Tensinya agak kurang pas untuk menuju klimaks.

Ya meskipun si roh penjaga dengan kekuatannya yang spektakuler mengatakan 'tidak ada yang perlu dilakukan nak', tapi tetap saja energi yang roh penjaga ini keluarkan sangat besar. Untuk para garde yang bisa merasakan aliran energi, 6 mendeskripsikannya sebagai energinya meningkat drastis. Dan ternyata hal tersebut dirasakan juga oleh manusia biasa kayak Sam.

Kenapa seri kelima ini terasa biasa aja? Menurut Arunika karena pengembangan masalahnya sih. Di Fall of Five pengembangan masalahnya lumayan bertingkat, naik-naik terus bikin sedih dan kecewa. Ada efek kejutnya juga, karena Arunika sudah ter framing kalo semua alien dari planet Lorien itu satu visi dan satu tujuan. Kemunculan 5 dengan semua fakta yang dia bawa, bikin framing itu tadi agak retak. Jadi bagus aja gitu rasanya.

Nah kalo di serial kelima ini, emosi pembaca dibawa berputar-putar, persis banget kayak cover bukunya yang banyak labirin. Rasanya kurang pas atau kurang puas aja gitu. Apalagi figur Setrakus Ra yang ganas jadi agak berubah saat ngobrol sama Ella. Iya, Arunika ngerti bahwa Setrakus Ra juga punya hati dan sayang keluarga tapi rasanya kurang pas aja kemunculannya. Apalagi ini hampir perang besar, tensi perangnya jadi turun karena karakter villain utamanya digambarkan agak berbeda dari biasanya.

Ketegangan tensi ini jadi semakin mereda karena ada energi roh penjaga tadi. Arunika sempat ngerasa kalo para garde ini nggak akan menang. Ada perbedaan kekuatan yang sangat signifikan antara garde dan Setrakus Ra. Apalagi peperangan ini melibatkan banyak pasukan Mog, alat tempurnya, piken dan senjata-senjata. Dari jumlah pasukan dan kelengkapan teknologi, para Garde jelas udah kalah. Belum lagi soal jam terbang Mog yang sudah pernah menghancurkan satu planet besar. Ada ketimpangan yang lumayan besar kan. Nah, saat rasanya nggak ada harapan, ternyata  ada roh penjaga yang mampu memberi sedikit harapan. Paham nggak?

Hal menarik yang mungkin baru disadari di seri The Revenge of Seven ini adalah, mungkin para garde nggak bisa balik lagi ke Lorien. Mereka sudah ditakdirkan untuk selamat dari Lorien dan tinggal di bumi. Tetua Lorien yang mampu memprediksi masa depan pun sudah menyiapkan banyak hal untuk kepindahan ini, termasuk menyiapkan tempat-tempat yang hanya bisa diakses oleh darah murni Lorien aja.

Kemunculan roh penjaga Lorien itu menandakan banyak hal, sepertinya. Roh ini bisa menjadi penanda kemenangan, penanda kehancuran akan segera berakhir, penanda kebangkitan dan penanda ini adalah rumah.

Apakah para garde akan selamanya tinggal di bumi? Apakah mereka bisa menjadikan bumi planet yang sama seperti planet asal mereka? Apakah ada kemungkinan garde bisa balik ke Lorien? Arunika penasaran soal ini. Kemuncul roh penjaga yang mampu membangkitkan energi dasar para garde dan menjadikan beberapa wilayah bumi terasa seperti Lorien, menunjukkan mereka telah kembali ke 'rumah'.

Terakhir, soal 8 yang Arunika pikir dia akan hidup lagi setelah menjadi wadah bagi entitas saat energi itu berbicara ke 6 dan Marina. Ternyata nggak. So sad. Kematian 8 ini lumayan bikin sedih, karena Arunika sebagai pembaca merasa terhibur oleh kelakuannya yang polos. Entitas penjaga itu sudah jelasin juga sih, 8 sudah nggak ada, dia sudah mati dan itu nggak bisa dibangkitkan lagi. Arunika masih mengira itu bercanda, dan masih agak berharap sedikit.

Tapi ternyata, 8 beneran memang ngga bisa diselamatkan lagi. Dia sempat sadar sebentar, untuk sekedar menyapa Marina dan 6. Dia juga sempat bilang kalo 'di sana' sangat indah, mungkin maksudnya tempat peristirahatan terakhir 8. Nggak lama setelah itu, kulit 8 jadi retak dan nggak berwujud lagi. So sad rasanya. Dari banyak perjuangan dan pertempuran yang mereka lakukan, 8 justru mati karena kelakuan temannya sendiri bukan karena berjuang di medan perang.

Ya pokoknya Arunika masih merasa nggak rela ngeliat 8 mati kayak gini. Rasanya kek masih ada harapan hidup karena mereka alien, tapi ternyata nggak ada. Entitas energi roh penjaga tadi pun nggak bisa melanggar batas soal hidup dan matinya makhluk. Itu bagus tapi sedih.

Itu aja review Arunika soal buku The Revenge of Seven, serial kelima dari novel I'm Number Four. Untuk kamu yang ingin baca review lainnya dari seri novel ini bisa langsung mampir ke Site Buku Arunika ya. Terima Kasih!

Post a Comment for "Review The Revenge of Seven Karya Pittacus Lore "