Dilema Wanita Usia 25 Ke Atas Soal Pernikahan

Arunika - Apakah wanita harus sudah menikah saat memasuki usia 25 tahun? Jawabannya agak subjektif tapi semoga bisa tersampaikan dengan mudah dan bisa ditangkap sebagaimana maknanya. Lewat tulisan ini, Arunika berharap tidak ada pihak yang merasa tersinggung atau bersikap sarkas. Mari diskusikan bersama.
Dilema wanita usia 25 tahun ke atas soal pernikahan itu bisa didasari oleh beberapa hal, dan itu nggak melulu karena kebelet nikah. Keinginan nikah mungkin ada tapi istilah "kebelet nikah" itu terasa agak kurang pas kayaknya.
Menikah dan pernikahan bagi setiap orang itu punya makna yang beda-beda. Menikah menurut mu akan beda dengan menikah menurut orang lain. Pendapat ini sangat pribadi dan subjektif jadi nggak ada yang paling salah atau paling bener. Justru aneh kalau kamu maksain pendapatmu ke orang lain, padahal mereka punya pengalaman dan perjalanan hidup yang berbeda dengan perjalananmu.
Apa yang Bikin Wanita Usia 25 ke atas Dilema Soal Pernikahan?
1. Pertanyaan "kapan Nikah?" Mulai Sering Muncul.
Kalau di desa-desa, pertanyaan ini mungkin akan muncul mulai dari usia 23 atau sekitar usia tamat sekolah. Pastinya lebih dilematik lagi kalau begini ya.
Pertanyaan yang cuman dua kata ini terasa mengganggu karena biasanya jawaban yang diinginkan adalah jawaban pasti. Penanya nggak akan senang dengan jawaban 'ya nanti tunggu waktunya', 'ya doakan saja', 'nabung dulu', 'modalnya belum ada', 'masih mikirin hal lain', 'kerjaannya belum mapan' dll.
Entah kenapa bagian pertanyaan dan jawaban ini selalu berakhir sanggahan atau bujukan, bukan pengertian atau penerimaan. Bahkan antar sesama wanita pun kejadian serupa banyak terjadi.
Kenapa jadi dilema? Karena pertanyaannya bukan cuman dari satu orang aja. Para wanita usia 25 ke atas biasanya akan malas bersosial dan lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan yang jelas bisa diselesaikan, ketimbang harus menjawab pertanyaan "kapan nikah?"
2. Pertanyaan Kapan Nikah Selalu Diberatkan Pada Wanita Daripada Pria.
Alasan yang paling sering muncul, "laki-laki nikahnya agak lama itu nggak papa, mereka sampe tua masih gitu-gitu aja beda sama perempun. Kalo perempuan ketuaan laki-laki nggak mau lagi"
Hmmm
Alasan ini agak kurang adil sih. Kenapa nilai yang diajarkan adalah wanita harus nikah cepet dan laki-laki boleh nikah tunggu matang, padahal menikah adalah pertemuan antara pria dan wanita yang sama-sama serius. Kalau wanitanya didesak menikah tapi pria diberikan kelonggaran, bukankah itu tekanan yang tidak adil?
Kalau ingin wanita bisa menikah di usia yang pas menurut konstruksi sosial maka pria harus dimatangkan dan dimapankan lebih cepat. Tujuannya agar di usia yang sudah disepakati, wanita bisa menikah dan hidup dalam sistem sosial mayoritas.
Bahasa gampangnya, 'perempuan itu cuman bisa nunggu. Sesiap apapun perempuan kalo laki-lakinya belum siap, pernikahan nggak akan terjadi'. Alih-alih mendesak perempuan cepat nikah, akan lebih solutif kalo masyarakat bisa menyiapkan laki-laki satu langkah lebih awal dari perempuan.
3. Anggapan Bahwa Usia 25 Itu Sudah Tua.
Ini bukan anggapan yang salah karena memang jejak usia pernikahan di Indonesia seperti itu. Ada faktor sejarah dan kebiasaan yang nggak bisa dilupakan.
Hanya saja, 25 untuk era sekarang sangat dekat dengan quarter life crisis. Setiap orang punya wayahnya sendiri-sendiri dan ngga melulu di usia 25, ada yang lebih awal, ada juga yang lewat 25. Ini bukan kondisi yang mudah. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, seperti situasi sosial, ekonomi, pendidikan dan karir.
Melihat keadaan zaman, sepertinya sulit untuk mencapai situasi yang stabil, mapan dan siap di usia 25. Usia ini juga sangat dekat dengan masa-masa tamat sekolah, masih minim pengalaman apalagi pemasukan. Secara psikis pun nggak mudah, karena faktanya banyak orang yang tambah usia tapi nggak tambah dewasa. Padahal menikah dianjurkan untuk orang yang siap bukan orang yang sudah berusia 25 atau lewat dari itu.
Hal ini menjadi dilematik karena penekanan 25 tua agak sering diberikan ke wanita dibandingkan pria, padahal balik lagi wanita hanya bisa menunggu.
4. Usia Wanita Selalu Dikaitkan dengan Kesuburan.
Kenapa wanita dituntut cepat menikah, karena wanita harus mengandung dan melahirkan. Semakin berumur, kemungkinan hamil akan semakin kecil pun kekuatan untuk mengasuh serta membesarkan anak akan semakin berkurang. Itu nggak salah. Logikanya memang begitu dan semua pihak tau kalau mengandung, melahirkan dan merawat anak bukanlah hal yang mudah.
Hal ini menjadi dilema karena informasinya terlalu menekan dan menuntut. Bagi wanita yang sedang mengusahakan jodohnya, rasanya seperti disalahkan. Percayalah, para wanita pun memikirkan hal ini. Memang tidak semuanya tapi tetap ada yang memikirkannya.
Daripada menasehati dan terus menjelaskan informasi yang sama berulang-ulang, cobalah untuk membahas hal lain. Ada banyak pencapaian wanita usia 25 yang bisa diobrolkan dan diapresiasi. Kalau memang urusan jodohnya masih belum terang, coba apresiasi hal lain yang sudah jelas sedang diusahakan dan mulai terlihat titik terangnya.
Itu hanya pendapat Arunika untuk orang-orang yang sering kehabisan topik obrolan dan pembahasannya muter-muter di nikah aja.
5. Hal yang Bikin Dilema Wanita Usia 25 Ke Atas Soal Pernikahan Adalah Pernikahan Itu Sendiri.
Semakin berusia, wanita akan semakin banyak berpikir dan semakin paham bahwa kehidupan bukan sesuatu yang mudah. Ada banyak kemungkinan yang muncul setelah menikah, masalah rumah tangga pun akan selalu ada.
Beruntung jika wanita bisa menikah dengan pria yang bisa membimbing dan menjadikannya lebih baik. Beruntung pula wanita yang bisa menemukan pria dari keluarga baik-baik dan keluarga yang bisa menerima kekurangan serta kelebihan wanita itu secara bulat-bulat.
Fenomena pernikahan yang serba terbongkar aibnya, serba lirik kanan, lirik kiri dan rumput tetangga lebih hijau selalu menjadi momok bagi wanita yang belum menikah. Kehidupan sebelum itu saja sudah berat, dengan berbagai rentetan pertanyaan rumit, kondisi rumit dan pendidikan mental yang nggak biasa. Kalau nantinya kehidupan setelah menikah justru menjadi awal masalah baru, bukannya pernikahan justru terasa menakutkan?
Poin ini sangat berkaitan dengan selektif mencari pasangan. Sebenarnya ini hal yang wajar karena berhati-hati itu penting, dan menjadi pasangan seumur hidup bukanlah waktu yang sebentar. Ikatan suami-istri itu juga berkaitan dengan kehidupan akhirat, karena itu selektif bukanlah hal yang salah.
Hal yang menjadikan selektif terasa salah adalah komentar penonton. Semua diukur berdasarkan apa yang terlihat mata dan akal. Padahal mata dan akal setiap orang bisa menghasilkan makna berbeda. Kalau komentar penonton ini dituruti seluruhnya, maka hidup wanita akan dilematik selamanya.
Rangkaian dilema usia 25 ke atas soal pernikahan bagi wanita ini hanya sebagian kecil saja. Di luar sana mungkin ada banyak persoalan yang lebih dilematik lagi, seperti orang tua yang keras dan selalu menolak pilihan anak, orang tua yang beda selera dengan anaknya dan masalah karma.
Kamu pernah denger nggak kalau karma bapak itu turun ke anak perempuannya? Ini juga jadi salah satu sebab situasi yang dilematik ya, tapi Arunika akan cukupkan pembahasan ini sampai disini. Terima kasih sudah menyimak sampai selesai.. Kalau ada yang mau berbagi pengalaman, monggo..
Buat mbak mbak usia 25 ke atas, semangat yaaa
ReplyDelete