Arunika - Indonesia nggak pernah kekurangan orang kreatif untuk menghasilkan karya-karya tak lekang oleh waktu, termasuk orang-orang kreatif yang menekuni dan menghidupkan puisi di jalannya yang sepi. Menjadi penulis puisi yang dikenal dan punya gebrakan besar untuk merawat bentala sastra Indonesia bukanlah hal mudah, apalagi sekarang penikmat puisi semakin berkurang. Tapi, itu tidak menutup fakta bahwa Indonesia punya sederet nama penulis puisi besar yang karyanya tak pernah bosan dibacakan. Di artikel kali ini, Arunika ingin mengajak kamu kenalan dengan beberapa penulis puisi besar Indonesia dengan beberapa karya besarnya. Para penulis ini lahir dari berbagai generasi, mereka punya gaya menulis yang khas dan bisa kamu nikmati sebagai bagian dari kekayaan karya masyarakat Indonesia. Kamu juga bisa belajar Amati Tiru Modifikasi (ATM) dari karya-karya mereka, untuk menjadikan kamu penulis besar yang lebih matang nantinya.
Yuk langsung kenalan aja, berikut 7 penulis puisi terkenal Indonesia yang karyanya tak lekang oleh waktu.
Penulis Puisi Indonesia dari Masa ke Masa
1. Chairil Anwar
Siapa yang nggak kenal penulis besar satu ini? Sudah puluhan tahun kepergiannya pun namanya tetap abadi.
Chairil Anwar terkenal sebagai salah satu tokoh puisi legendaris yang aktif sejak zaman penjajahan. Ia banyak menyuarakan isi hatinya lewat puisi. Chairil Anwar lahir pada 26 Juli 1922, lahir di Medan, Sumatera Utara. Sekitar tahun 1940 ia bersama ibunya pindah ke Jakarta yang saat itu masih bernama Batavia.
Ia sempat bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) sekolah khusus untuk Kolonial Belanda, tapi tidak sampai tamat. Perjalanan dan tekadnya menjadi seniman mulai tumbuh sejak Chairil Anwar keluar dari sekolahnya.
Sepanjang hayat hidupnya, Chairil Anwar berhasil merilis kurang lebih 70 puisi. Tema yang dominan muncul di dalam puisinya ada pemberontakan, kematian, interpretasi, individualis dan eksistensialisme. Salah satu puisi Chairil Anwar yang sangat familiar bagi masyarakat Indonesia adalah "Aku" diciptakan pada 1943. Usia puisi ini 2 tahun lebih tua dari usia kemerdekaan Indonesia.
Chairil Anwar wafat pada 1949 di RS Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
2. W.S Rendra
W.S Rendra adalah penulis puisi besar yang mendapat julukan "Burung Merak" berkat puisinya pertamanya di Majalah Siasat. W.S Rendra atau yang lebih akrab disapa Rendra lahir pada 7 November 1935 di Solo. Ia mengenyam pendidikan cukup tinggi, hingga mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada.Puisi karya Rendra banyak menyoroti tema kehidupan. Ia juga penulis romantis yang mampu meromantisasi setiap rasa dengan bahasa yang menggerakkan. Beberapa puisinya yang terkenal ada Mazmur Mawar, Sajak Orang Lapar, Gugur, Sajak-sajak Cinta dan masih banyak lainnya.
Rendra wafat di usia 73 tahun, tepatnya pada Agustus 2009 lalu. Sampai hari ini karya-karya puisi Rendra masih menjadi karya yang diagungkan dan banyak dibahas.
3. Taufiq Ismail
Taufiq Ismail lahir di Sumatra Barat 25 Juni 1935, tahun yang sama seperti Rendra, beda kota kelahirannya aja. Taufiq Ismail terkenal dengan gelarnya Datuk Panji Alam Khalifatullah, gelar ini ia dapat dari latar belakang keluarganya yang merupakan keluarga Ulama.
Kemampuannya di bidang kesastraan didukung juga oleh latar belakang keluarga yang merupakan sastrawan. Tapi untuk menghidupi jalan sastranya sendiri, Taufiq Ismail lebih memilih masuk jurusan Kedokteran Hewan Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Kiprahnya di dunia sastra Indonesia sangatlah besar. Ia berhasil merilis beberapa karya terkenal yang banyak dikagumi pembaca. Beberapa karya terbaik Taufiq Ismail ada Sajadah Panjang rilis tahun 84, Kembalikan Indonesia Padaku rilis tahun 1971, Mencari Sebuah Masjid rilis tahun 1988 dan masih banyak lainnya.
Kemampuan menulis Taufik Ismail tidaklah perlu diragukan lagi, karena selain ahli menulis puisi ia juga ahli menulis lirik lagu untuk para musisi Indonesia.
4. Sapardi Djoko Damono
Bapak puisi yang romatis dengan bahasa sederhana dan penuh makna. Sapardi Djoko Damono, penulis kelahiran 20 Maret 1940 ini termasuk penulis yang karyanya sangat terngiang-ngiang di generasi muda. Salah satu puisinya yang paling sederhana dan berhasil mendapatkan cinta yang luar biasa dari para pembaca ada "Aku Ingin" dengan bait pertamanya 'Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.'
Sapardi mengawali karirnya sebagai penulis dengan mengirimkan tulisannya ke berbagai majalah. Ia sudah melakoni ini sejak masih muda. Perjalanannya dalam meniti karir penulis didukung oleh background pendidikan yang mumpuni. Sapardi pernah belajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan berhasil mendapatkan gelar Doctor dari universitas tersebut.
Figur Sapardi sebagai penuli bersahaja yang ahli memainkan kata sangatlah melekat pada benak. Karyanya legendaris dan dinikmati sampai hari ini. Beberapa karya Sapardi yang bisa kamu nikmati ada Yang Fana Adalah Waktu lahir sekitar tahun 78, Aku Ingin lahir sekitar tahun 89, Hujan Bulan Juni yang lahir sekitar tahun 94 dan beberapa karya fenomenal lainnya.
Sampai akhir hidupnya, masih belum ada puisi yang bisa mengalahkan keromantisan puisi 'Aku Ingin'. Sapardi wafat pada 19 Juli 2020.
5. Sutardji Calzoum Bachri
Sutardji Calzoum Bachri adalah penulis kelahiran Sumatra tepatnya di Indragiri, Riau pada Juni 1941. Sutardji mengawali karirnya sebagai penulis dengan belajar menulis puisi di berbagai majalah yang ada di Bandung. Kesempatan ini ia dapatkan sejak ia memutuskan untuk tidak menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Padjajaran.
Sutardji Calzoum Bachri menjadi salah satu penulis besar Indonesia yang berkat perjuangan dan usahanya mampu menjadikannya redaktur di Horison dan Kompas.
Beberapa karya Sutardji yang bisa kamu nikmati ada Gajah dan Semut rilis sekitar 976, Kucing rilis pada 1995, Bayangkan rilis pada 1977. Lewat karya-karyanya, Sutardji ingin mengajak oran-orang untuk lebih dekat dengan puisi dan mampu mengeksplore tema dan rasanya secara lebih detail dan dalam.
Sutardji juga mengajarkan bahwa puisi adalah bagaimana kamu membebaskan kata dari atribut 'penjajahan'. Dalam puisi kamu bebas mengeluarkan ide tanpa batasan gramatika. Intinya ada pada bagaimana kamu menikmati kata dan menjadikannya lebih bermakna.
6. Mustofa Bisri
Mustofa Bisri atau Gus Mus. Beliau merupakan seorang ulama, sastrawan dan budayawan Indonesia. Gus Mus lahir di Rembang 10 Agustus 1944. Gus Mus bukanlah orang sembarangan, selain menekuni ranah sastra, beliau juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin.
Kiprahnya di dunia seni bukan hal yang perlu diragukan, karena di tengah kesibukannya mengurus berbagai lini masyarakat dan pendidikan Gus Mus berhasil mendapatkan penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah. Hal ini merupakan bentuk apresiasi yang didapat Gus Mus untuk dedikasinya di bidang seni dan budaya.
Keunggulan puisi-puisi Gus Mus ada pada kesedehanaan kata dan bahasanya. Lewat tulisannya, kamu akan belajar kalau ternyata berpuisi itu bisa dituliskan dengan gaya yang ringan, tanpa perlu dilebih-lebihkan atau dibuat-buat.
Kamu bisa menikmati tulisan-tulisan Gus Mus lewat karyanya yang berjudul Guruku rilis 1987, Pilihan rilis 1989, Maju Tak Gentar rilis 1993, Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat rili pada 1987 dan masih banyak lainnya.
7. Joko Pinurbo
Penulis puisi generasi terbaru yang berusaha mengajak pembaca untuk melihat pada apa yang jarang disadari manusia. Sudut pandang ini menjadikan Joko Pinurbo menjadi lebih mudah dikenal publik karena keunikan bahasa dan karyanya.
Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, 1 Mei 1962. Ia mulai menekuni hobinya dalam dunia sastra sejak masih SMA. Ketekunannya dalam menciptakan puisi lah yang menjadikan Joko Pinurbo berhasil menjadi penulis baru dengan perspektif unik yang belum pernah dipilih orang lain.
Untuk mendukung hobi kepenulisannya ini, Joko Pinurbo melanjutkan pendidikan di IKIP Yogyakarta yang saat ini dikenal dengan nama Universitas Negeri Yogyakarta di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Karya Joko Pinurbo yang terkenal ada Dibawah Kibaran Sarung rilis pada 1999, Pacar Kecilku rilis pada 2001, Doa Seorang Pesolek rilis pada 2001 dan masih banyak lainnya. Joko Pinurbo juga pernah diundang ke Mata Najwa dan diminta membacakan salah satu puisinya yang berjudul Kamus Kecil rilis pada 2014.
Dari karya-karyanya ini Joko Pinurbo berhasil menggambarkan kekayaan bahasa Indonesia dan hubungannya yang sangat erat antara susunan satu kata dengan kata dan makna yang lain. Untuk
lebih jelasnya, mending langsung baca aja ya.
Joko Pinurbo sempat menjadi staf pengajar di UNY dan karena pekerjaannya ini, akhirnya ia menetap di Yogyakarta. Salah satu penggalan puisi Joko Pinurbo tentang Yogya yang fenomenal ada, "Jogja terbuat dari rindu, pulang dan angkringan."
___ _ _____ _ ____
Selain 7 nama besar ini, masih ada banyak nama penulis puisi lain yang kiprahnya sangat besar untuk mensejahterahkan lingkup sastra Indonesia. Pembahasan tentang penulis puisi ini sengaja dibagi menjadi beberapa part karena Arunika ingin mengenalkan banyak nama penulis dan karya-karyanya.
Semoga tulisan ini bisa diterima dengan baik dan nantikan part part penulis puisi selanjutnya. Btw, Arunika kemaren bagiin tips menulis puisi untuk ikut lomba puisi lho, mampir kesini juga ya. Terima kasih.
Post a Comment for "7 Penulis Puisi Terkenal Indonesia yang Karyanya Tak Lekang Oleh Waktu"