Review Novel Negeri 5 Menara Karya A Fuadi
Sinopsis Negeri 5 Menara Karya A Fuadi
Review Novel Negeri 5 Menara Karya A Fuadi
Novel Negeri 5 Menara diawali dengan cerita dari masa depan. Saat pertama kali baca alurnya yang bolak balik, Arunika sempat suka-bosan-suka lagi sama cerita di novel ini.
Sama seperti niat awal A.Fuadi menulis novelnya, Negeri 5 Menara ditulis untuk menginspirasi, nah kalo kamu baca novel ini sampai selesai pastinya kamu akan merasa terinspirasi sih. Perspektif yang digunakan memang perspektif remaja yang ngga bisa menerima sepenuhnya keputusan orang tua.
Alif Fikri di novel ini digambarkan sebagai sosok yang lumrahnya remaja. Namanya remaja pasti kan maunya didengarkan dan dituruti, nah Alif Fikri ini digambarkan persis kayak gitu. Jadi dia di dunianya mengalami pergolakan rasa nggak suka, antara pengen berontak tapi nggak berani, gitu lho.
Berkat landasan awal yang kuat ini, cerita Negeri 5 Menara berhasil memasuki step step menginspirasi sesuai target awal A.Fuadi. Kamu akan diajak ngeliat kehidupan Pondok yang jarang sekali terlihat orang luar. Ada jatah jaga malam untuk setiap santri, rasa takut, peraturan yang ketat, kejar-kejaran dengan pengurus, jatah makan yang kadang terlewat, berbagi kiriman dari orang tua, menghabiskan setiap waktunya untuk belajar dan masih banyak lainnya.
Kamu juga akan melihat peraturan-peraturan yang wajib diikuti semua santri. A Fuadi dengan sabar menuliskan daftar aturan itu di bab pembuka. Disini kamu diajak untuk benar-benar masuk ke kehidupan pesantren Alif Fikri, jadi kalo ada pelanggaran yang mereka lakukan kamu pun akan langsung tau kalo itu melanggar.
Di novel ini kamu juga akan melihat kehidupan santri yang apa adanya. Anggapan bahwa santri itu pasti taat dan penuh tata krama akan dijelaskan secara mudah disini. Intinya nggak ada manusia yang nggak bisa dibentuk. Kalau kamu ngeliat santri kok sopan dan patuh semua, itu ada proses belajar panjang yang ngga bisa kamu anggap remeh. Ada aturan ketat yang bikin mereka harus kejar-kejaran dengan waktu.
Melihat perkembangan Alif Fikri yang awalnya nggak tertarik sama kehidupan pondok, sampe dia jadi yang paling aktif dan bisa mengeluarkan ide-ide kreatif tak tertandingi, Arunika kira Alif Fikri bakal jadi salah satu pengabdi di pondok tapi ternyata nggak.
Dia tetap dengan mimpinya yang nggak diduga siapa pun. Ada jalur yang ingin dia tempuh dan mimpi yang ingin diwujudkan. Kesempatannya sangat tipis tapi tetap dia ambil. Dan momen ketika Alif Fikri fokus mengkhatamkan materi 3 tahun pelajaran dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, itu terasa keren banget sih.
Pas baca part itu, Arunika sempet mbatin 'emang ada ya manusia yang bisa kayak gini?' tapi ya mungkin memang beneran ada. Cuman jarang terlihat dan jarang berbagi perjuangannya aja.
Tiba-tiba Arunika inget cerita Katherine Johnson dari film Hidden Figures, si paling jenius dari kumpulan orang jenius. Dan ya, ternyata manusia yang kemampuan otaknya optimal itu beneran ada.
Alif Fikri dengan kemampuan yang dia punya, berusaha melakukan semua yang dia bisa agar berhasil. Jarang ada orang yang punya daya juang kayak gini, Arunika pun kayaknya termasuk yang daya juangnya minim, karena itu lah Arunika merasa terinspirasi.
Pesan moral yang bisa diambil dari novel ini adalah,
Manut Orang Tua itu Nggak Salah
Alif Fikri sudah menunjukkan itu di perjalanan belajarnya. Menerima perintah belajar di tempat yang nggak pernah dia bayangkan sebelumnya pastinya sulit banget kan. Apalagi sebelumnya dia sudah punya rencana akan sekolah dimana dan sama siapa. Eh rencananya gagal cuman dalam sekali obrolan.Nah, kabar baiknya ternyata jalur itu bukan jalur yang merugikan buat Alif Fikri. Justru dari tempat pilihan orang tuanya, Alif Fikri jadi sosok yang lebih stabil dan punya pijakan yang jelas.
Ada satu nasehat yang bilang, "kemuliaan seseorang itu terletak pada kemampuannya memikul hal yang tidak ia sukai seperti memikul hal yang ia sukai." (intinya gitu)
Kesempatan Akan Selalu Ada
Kesempatan akan selalu ada, tapi datangnya cuman satu kali dan kadang resikonya sangat besar. Saat kamu berani mengambil kesempatan itu, kamu dituntut untuk menyerahkan energi yang lebih besar dari yang pernah kamu berikan sebelumnya.
Ini sama aja kayak, 'sekali ini atau nggak sama sekali'.
Percaya Pada Dirimu Sendiri
Saat kamu punya mimpi yang ingin diwujudkan, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah percaya bahwa kamu mampu mewujudkannya. Percaya pada dirimu sendiri dan mimpimu. Kalo kamu nggak punya keyakinan apapun pada mimpimu, ya bakal sulit mewujudkannya. Kamu percaya aja jalannya sulit apalagi kamu nggak percaya. Ye kan??Mewujudkan mimpi itu bukan sekedar, 'awalnya saya coba-coba eh tau-taunya berhasil', nggak ada yang seperti itu. Namanya mimpi pasti ada angan-angan dan target yang ingin dicapai. Nah, saat target itu muncul saat itu pula tantangannya muncul.
(Paham kan?)
Nah, untuk penutupnya.
Tadi kan Arunika bilang kalo baca novel ini ada suka-bosan-suka lagi. Nah part yang bikin agak bosan itu ada di bagian pembukaannya. Ternyata baca aturan-aturan itu rasanya agak bosan ya. Ya memang setelah aturan itu ada, Arunika jadi bisa nandain kapan pelanggaran dan nggak pelanggaran tapi ya yang namanya aturan, liat jumlah butir-butirnya aja udah males kan.
Kayaknya part yang bikin Arunika sempet mikir, 'ini apa?' cuman part aturan ini aja sih. Sisanya bisa dinikmati sambil minum es teh di cuaca panas yang bikin gerah ini. Terima kasih.

Post a Comment for "Review Novel Negeri 5 Menara Karya A Fuadi"