Review Concrete Utopia, Kehidupan Setelah Terjadinya Bencana
Sutradara : Uhm Tae Hwa
Genre : Bencana, Laga, Fiksi, Drama
Tahun Rilis : 2023
Rate : 8.9
Arunika - Kesan pertama Arunika saat menonton film Concrete Utopia adalah, kayaknya film ini ada nuansa-nuansa sendunya ya. Ada banyak warna biru dan abu-abu dingin yang bikin suasana terasa agak berat. Apalagi liat wajahnya Park Seo Jeon yang keliatan linglung, sedih, kacau, bingung dan tertekan. Ya siapa coba yang nggak tertekan kalo ada di posisi Park Seo Jeon, ya kan!
Untuk urusan film-film bernuansa bencana seperti ini, Korea emang nggak pernah gagal sih. Sebelumnya ada Train to Busan yang berhasil menarik perhatian dunia dengan kasus wabah zombie yang menghancurkan kehidupan Korea. Selanjutnya ada sekuelnya berjudul Penninsula, peristiwa yang terjadi sekitar 4 tahun setelah wabah zombie melanda. Sekarang ada Concrete Utopia yang kabarnya siap bersaing di berbagai ajang penghargaan film bergengsi.
Penasaran nggak sih gimana reviewnya? Simak ulasan Arunika berikut ini ya.
Sinopsis Concrete Utopia
Concrete Utopia bercerita tentang kehidupan pasca terjadinya bencana besar yang menjatuhkan hampir semua gedung apartemen besar di Korea Selatan. Bencana ini datang dengan sangat tiba-tiba, tenaganya sangat dahsyat dan tidak bisa dihentikan. Dari semua bangunan yang runtuh, hanya ada satu apartemen yang masih berdiri kokoh dan di apartemen inilah Min Sung dan Myun Hwa tinggal. Nama apartemennya apartemen Hwang Goong.
Di apartemen ini para penghuni hidup dengan mengandalkan persediaan masing-masing, tapi karena keadaan yang tidak mendukung dan tidak ada bala bantuan yang datang semuanya jadi harus lebih berhemat. Beberapa orang dari tempat tinggal berbeda muncul untuk numpang tinggal di apartemen ini karena hanya bangunan ini satu-satunya yang masih tersisa dan layak huni.
Masalah mulai muncul ketika salah seorang warga apartemen Hwang Goong merasa nggak terima dengan kedatangan orang asing. Situasi ini menjadi semakin serius karena ada perbedaan pendapat, hingga akhirnya mereka memutuskan memilih satu ketua yang rela berkorban untuk memimpin mereka.
Atas dasar kesepakatan bersama mereka memutuskan hanya pemilik kamar di apartemen Hwang Goong yang boleh tinggal disini. Jadi semua orang asing di usir tanpa pandang bulu. Tentunya ada beberapa pihak yang tidak setuju dengan kebijakan tersebut, tapi mereka nggak bisa berbuat apa-apa.
Masalah kemanusiaan ini terus berlanjut karena bahan pangan yang terus menipis. Untuk mempertahankan kehidupan warga apartement Hwang Goong, para lelaki harus berkeling ke bangunan-bangunan runtuh dan mencari makanan. Mereka berusaha melakukan segalanya dan akhirnya isu soal mereka yang memakan dan membunuh orang pun mulai tersebar.
Review Concrete Utopia
Jujur, butuh waktu lama bagi Arunika untuk menyelesaikan film ini. Durasi Concrete Utopia kan sekitar 2 jam 10 menit, nah Arunika nontonnya bisa hampir 3 jam karena kebawa sama suasana berat yang ada di film ini.
Concrete Utopia ingin menyajikan bagaimana sifat asli manusia saat di titik kritisnya. Beberapa orang mungkin memang memiliki rasa sosial tinggi dan siap membagikan apapun, tapi banyak juga yang berusaha menjaga eksistensi dirinya sendiri.
Secara sosial, Arunika berada dipihak Myun Hwa yang lebih berharap semua orang bisa hidup bareng di apartemen Hwang Goong. Alasannya bukan karena mereka butuh bantuan, tapi di kondisi pasca bencana seperti itu semua orang memang butuh bantuan. Apartemen Hwang Goong menjadi satu-satunya tempat yang layak ditinggali, jadi nggak ada salahnya berbagi tempat tinggal disini.
Tapi, Arunika bukan orang yang ada di posisi mereka dan semoga nggak akan pernah ada di posisi mereka, kisah seperti ini cukup di film aja. Mungkin ada pertimbangan lain yang membuat mereka harus mengambil keputusan mengusir warga asing.
Dari segi cerita, Arunika sangat menikmati sambil menerka-nerka 'kalau aku disana apa yang akan aku lakukan?' Ini pertanyaan yang umum dan manusiawi banget sih. Lewat latar ceritanya yang jelas, Concrete Utopia bisa menebus batas jarak dan pemahaman sosial manusia. Secara otomatis kamu akan merasa dekat dengan peristiwa tersebut karena gempa dan bencana alam adalah hal yang bisa dialami oleh siapa saja, di kota atau negara manapun dan bahasa apapun.
Apakah bertahan hidup sambil mencari makan disana-sini adalah hal yang normal? Sebenarnya ini termasuk insting bertahan hidup manusia. Dari film ini kamu bisa menyaksikan sedikit gambaran pembagian tugas antara perempuan dan laki-laki yang sangat tegas. Mereka menggunakan konsep yang sama seperti manusia zaman pra sejarah, laki-laki yang berkeliling cari makan dan perempuannya mengatur kehidupan dalam rumah.
Kalau situasinya sudah tegang, sistem pembagian tugas seperti ini terasa efektif ya. Tapi kalo keadaan lagi baik-baik aja, rasanya kaya ada pihak yang diremehkan? (Eh?)
Hal menarik yang bisa kamu temukan di pengembangan cerita Concrete Utopia adalah pertama nonton kamu langsung berhadapan dengan masalah utama. Kamu langsung bisa mengkondisikan pikiran dan emosi untuk hidup di tengah situasi kacau pasca bencana besar melanda. Terlepas gimana situasimu saat sebelum menonton film ini, keadaan pikiran bisa langsung berubah saat film dimulai. Kemampuan visual yang mampu mensugesti pikiran dan menjadikan kamu hanyut di dalam ceritanya.
Arunika juga suka dengan latar waktu musim salju yang mereka pilih. Seperti yang Arunika sampaikan sebelumnya, film ini punya nuansa sendu yang kuat. Warna biru dingin menjadi warna emosi utama semua orang, ditambah musim salju yang memang dingin dan situasi kacau yang kurang toleransi.
Untuk teknik pengambilan gambar dan editing, rasanya nggak ada yang kurang ya. Semuanya pas dengan porsi masing-masing dan nggak bikin kamu ngerasa risih nonton filmnya. Lalu untuk bagian properti, make up, wardrobe dan set artistik, semuanya keren dan totalitas banget sih. Di film ini kamu bisa liat kalo jadi artis itu nggak melulu harus cantik dan tampan. Park Bo young yang secantik itu pun keliatan nggak mirip dirinya lagi. Tetap cantik cuman agak beda aja dari tampilan biasanya, apalagi saat masa-masa promosi.
Oiya, peranya Myun Hwa (Park Bo Young) di film ini keren banget ya. Kayaknya Myun Hwa ini lead female yang dialognya paling sedikit. Aktingnya hidup berkat ekspresi wajahnya. Ini kerennya film-film Korea, dengan wajah diamnya aja penonton bisa merasakan ekspresinya. Untuk bagian pengungkapan, nggak ada yang salah sih. Kalo ada yang komen, kok pengungkapannya gampang banget? Sebenarnya itu nggak gampang, cuman gambarnya di cut to cut dengan situasi lain jadi seolah-olah gampang.
Soal tetangga yang ngga saling kenal, itu bukan hal baru sih di Korea. Kok mereka nggak tau kalo di antara mereka ada penyusup? Ya itu wajar. Tanpa buku catatan daftar penghuni apartemen mungkin mereka nggak akan pernah tau siapa warga asing dan bukan warga asing. Memang mereka tipe yang tidak saling mengenal kecuali untuk teman-teman dekat saja.
Gimana kehidupan setelah terjadinya gempa?
Pastinya kacau, nggak aman, ngga tenang dan berharap bantuan bisa segera datang. Di situasi kayak gini, semua orang ingin bisa memberikan yang terbaik untuk orang terkasih. Melindungi dan dilindungi menjadi dua poin yang harus dijaga dan dipertanggung jawabkan sampai akhir.
Apakah bencana menjadikan manusia lebih egois?
Sebagian besar iya, karena manusia yang berada di bawah tekanan dan lapar bisa mengambil keputusan ekstrim dan memicu banyak perselisihan. Hidup di barak penampungan seperti ini bukan hal mudah. Concrte Utopia diuntungkan oleh satu bangunan apartement yang masih bisa berdiri kokoh. Tapi keputusan yang diambil memang menunjukkan sisi egois manusia.
Apakah menjadi egois itu salah?
Sejauh yang Arunika tau, egois hanya akan memberikan kesenangan sesaat. Memang menguntungkan, tapi ya cuman sesaat aja. Setelah mencapai puncaknya semua akan kembali seperti sedia kala dan dengan kesadaran yang berbeda dari sebelumnya. Manusia memang dasarnya punya unsur ini tapi ada yang bisa mengendalikannya dan ada yang tidak.
-----
Itu aja yang bisa Arunika bagikan soal review film Concrete Utopia, semoga nggak kepanjangan ya. Terima kasih sudah menyimak sampai akhir, sampai jumpa di artikel Arunika selanjutnya.





Post a Comment for "Review Concrete Utopia, Kehidupan Setelah Terjadinya Bencana"