Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Film Kartini Pahlawan Perempuan Indonesia dan Pergerakannya

review film kartini
Sutradara: Hanung Bramantyo

Tahun Rilis: 2017

Genre: biografi, sejarah, drama

Rate: 8


Arunika - Kartini pastinya bukan nama yang asing lagi bagi warga Indonesia, bahkan ada hari khusus yang dibuat untuk merayakan, mengenang dan meneladani perjuangannya. Ada banyak cara yang dilakukan untuk mengenal sekaligus mengenang sosok teladan yang mengagungkan nama perempuan ini, salah satunya lewat film.

Film Kartini yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo bukanlah satu-satunya film Kartini yang ada di Indonesia. Pada 1982 telah rilis R.A Kartini karya Sjuman Djaya, selanjutnya pada 2016 ada Surat Cinta untuk Kartini karya Azhar Kinoi Lubis dan yang ketiga Kartini karya Hanung Bramantyo, film yang hari ini akan Arunika review.

Apakah Kartini karya Hanung Bramantyo ini yang terakhir? Tidak sepenuhnya berakhir, tahun-tahun setelahnya ada film yang menyuarakan perjuangan Kartini. Semangatnya masih diadopsi dengan karakter dan tokoh yang lebih relevan dengan kehidupan sekarang. Jadi Kartini nggak melulu dibahas soal biografi tokohnya aja. 

Sinopsis Film Kartini Karya Hanung Bramantyo

review film kartini
Film Kartini bercerita tentang Kartini kecil yang dipisahkan dari Ibu Kandungnya karena perbedaan status. Ibu Kartini adalah seorang dayang dan ayahnya Bupati yang masih memerintah. Sebagai anak dari orang berkedudukan tinggi, Kartini harus mengikuti aturan kehidupan keluarga bangsawan yang menurutnya rumit, salah satunya tentang kasta sosial.

Kartini sejak kecil sadar ada yang salah dengan nilai sosial yang ada di lingkungannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mengikuti aturan yang ada, dikurung hingga dewasa dan belajar tata krama layaknya putri bangsawan. 

Kecerdasan Kartini sudah terlihat sedari kecil, ditambah lagi ia mendapat dukungan dari kakak laki-lakinya Raden Sosrokartono untuk terus belajar dan jangan pernah membiarkan pikirannya terpenjara. Sejak saat itu, Kartini jadi lebih giat membaca dan mengamati keadaan sosial. Ia juga memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk berinteraksi dengan orang-orang Belanda. 

Keberanian Kartini mencoba hal baru berhasil memberikannya ruang  mengenal masyarakat sekitar secara lebih mendalam. Ia melihat ada banyak masalah sosial yang perlu diatasi, salah satunya pendidikan kaum perempuan. 

Pengaruh Kartini dan dua adiknya sangatlah besar, tapi mereka tidak bisa bebas bergerak karena apa yang dilakukan oleh Kartini dan dua saudaranya adalah hal yang masih baru dan terasa tabu. Hingga akhirnya masalah muncul saat mereka mulai diminta menikah.  

Review Film Kartini Pahlawan Perempuan Indonesia dan Pergerakannya

review film kartini
Ada banyak poin yang sebenarnya bisa dibahas dari film ini, terutama karena film Kartini merupakan film biografi pahlawan Perempuan Indonesia. Tapi Arunika tidak akan membahas semuanya karena fokus topik yang Arunika bahas hari ini adalah film Kartini dan pergerakannya. 

Karakter Kartini di film Kartini berusaha menunjukkan bahwa kesempatan akan selalu ada saat kamu berani memulai. Mungkin rasanya akan sangat sulit karena tidak ada acuan, baik untuk kamu atau orang-orang di sekitarmu. Perlawanan pasti akan selalu ada, tapi di setiap keadaan pasti ada celahnya. Mencari celahnya itulah yang wajib dilakukan oleh semua pejuang.

Kartini ingin mengajak kamu melihat serta berpikir dengan skala yang lebih luas. Mungkin rasanya agak sedikit membanding-bandingkan kehidupanmu dengan kehidupan orang di negeri sebelah, dan ternyata itu nggak papa selama kasus perbandingannya punya nilai positif. Hal ini dicontohkan Kartini dalam filmnya lho, tonton deh kalo nggak percaya. 

review film kartini
Ide bahwa perempuan juga berhak mendapat kesempatan belajar yang sama didapat dari buku-buku bacaannya selama masa pingitan. Ide itu brilian dan baru di negeri Kartini saat itu, tapi itu bukan ide yang tiba-tiba muncul lalu digagas dari 0.  Untuk aksinya memang dari 0, tapi ide dasarnya tidak. Kartini punya gambaran kehidupan perempuan yang jelas berkat buku bacaannya yang beragam. Berkat hal itu lah, perjuangan Kartini jadi lebih terukur dan terarah. Ia punya kiblat berpikir, kiblat keadaan dan target situasi yang sangat ingin dicapai.

Melihat bagaimana potret kehidupan era Kartini, ide yang Kartini ajukan jelas bukan ide yang bisa diwujudkan dengan mudah. Daripada memikirkan pendidikan perempuan, ada masalah ekonomi yang lebih mendesak dan harus diselesaikan. Fakta bahwa saat itu kehidupan masyarakat sangat miskin padahal mereka punya skill yang potensial tapi tersia-siakan, harus diterima. Dan itu lah hal yang dilakukan Kartini bersama kedua adiknya. 

review film kartini
Mereka tidak melupakan tujuan utama mereka pada pendidikan perempuan, tidak menundanya juga, mereka hanya berusaha menyelesaikan masalah yang lebih mendesak, agar langkah selanjutnya tidak terhalangi. Dan hebatnya, keputusan ini ternyata memberikan dampak besar bagi mereka. Mereka mendapatkan kepercayaan banya pihak, termasuk warga Belanda. 

Lewat perannya ini, Kartini bersama kedua adiknya menunjukkan kalau perempuan yang cerdas bisa memberikan kontribusi besar bagi lingkungan sekitar. Perempuan bukan sekedar mesin reproduksi yang tugasnya melahirkan dan membesarkan anak. Pun saat masalah ekonomi melanda, menikahkan perempuan bukanlah jalan keluar paling efektif yang bisa dipilih. 

Setelah itu, barulah Kartini bisa fokus pada pendidikan perempuan. Perempuan di era Kartini sangat berbeda dengan perempuan sekarang. Mereka nggak belajar, nggak bisa baca dan cepat menikah. Dari observasi yang dilakukan Kartini di lingkungannya, sebagian besar perempuan di bawah 17 tahun sudah punya anak. Ini seperti trend menyelesaikan masalah? Atau trend menjalani hidup ala masyarakat sosial? 

Sebagai pihak yang melek pendidikan, jelas Kartini merasa terpukul dengan fakta yang ada. Kesempatannya untuk berbagi pun dimulai, dan hal pertama yang ia lakukan adalah mengajarkan baca tulis. 

review film kartini
Kenapa baca tulis? Padahal skill lain lebih dibutuhkan dalam hidup, terutama kehidupan mereka yang terbilang sulit ekonominya?

Mungkin ini berhubungan dengan asal muasal sumber pengetahuan Kartini. Ia banyak membaca buku, berkirim pesan dengan teman pena nya dari Negeri Kincir Angin, mendapat banyak pengetahuan yang belum pernah ia miliki sebelumnya dan berhasil menaikkan derajat perempuan.

Kenapa baca tulis? Karena kemampuan ini adalah jendela pertama yang bisa dipakai untuk melihat dunia dan mengatakan pada dunia bahwa kamu ada dan kamu hidup. Kartini ingin memberikan soft skill yang berguna untuk menambah pengetahuan perempuan. Kartini ingin menjadikan kaum perempuan sebagai kaum terdidik yang bisa belajar, menyelesaikan masalah dan berkontribusi bagi lingkungan. 

Kenapa? Karena peran perempuan sangat besar, baik di kehidupannya sebagai anak, istri dan ibu. Meskipun tidak digambarkan secara gamblang di film ini, tapi kamu bisa melihat ketika perempuan nggak diberi kesempatan dan nggak mampu menilai masalah dengan benar, mereka bisa mengambil keputusan yang salah. Akibatnya, bukannya masalah terselesaikan justru masalahnya jadi semakin rumit.

Apakah ini salah perempuan? Apakah perempuan biang masalah?
Bukan!

Masalahnya ada pada sistem yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus memikul setiap hal yang dianggap remeh, padahal punya dampak besar bagi kehidupan. Sistem sosial yang seperti inilah yang ingin diurus Kartini bersama kedua adiknya.

review film kartini
Bukankah perempuan seperti Kartini berbahaya? Mereka akan menentang setiap norma yang nggak sesuai dengan pikirannya dan bisa meninggalkan tradisi lokal.

Ini pendapat dan ketakutan yang wajar sih, apalagi di era Kartini yang masih sangat mengagungkan kedudukan laki-laki. Dan ya, memang sulit menghadapi keras kepalanya Kartini.

Kartini punya prinsip kuat tentang perempuan dan kedudukannya. Masalahnya Kartini nggak bisa menentang sistem yang berlaku terkait pernikahan dan hubungan diplomatis, sebesar apapun usahanya menentang, suaranya tetap nggak didengar. 

review film kartini
Di bagian ini, satu-satunya orang yang berhasil bujuk Kartini cuman Ibu Kandungnya. Poin ini juga menjadi poin kuat yang menunjukkan bagaimana Kartini menghormati perempuan, terutama ibunya. Meskipun nggak ditunjukkan hubungan mereka di film Kartini, tapi cukup satu scene aja bagi Ibunya Kartini bujuk Kartini dan itu sudah cukup menunjukkan kedudukan ibunya.

Sebesar apapun kontribusinya di luar, Kartini tetaplah seorang anak dan ia menghormati ibunya. Meskipun perintah ibunya bertentangan dengan prinsip dan usaha Kartini selama ini, ia tetap mengikuti (mungkin dengan berat hati).

Mungkin akan beda ceritanya kalo Kartini memilih membangkang. Untungnya di film ini, Kartini nurut sih.

Nah, apa yang bisa dipelajari dari pergerakan Kartini?

1. Jangan malas belajar

Meskipun baca buku dan nulis manfaatnya nggak bisa dirasakan langsung tapi yang namanya ilmu akan tetap membawa kamu ke kedudukan tertentu. 

Bukan berarti cukup baca dan nulis aja ya. Untuk bisa memanfaatkannya secara maksimal, informasi atau ilmu yang kamu dapatkan harus diadaptasikan dengan situasi dan kondisi sosial. Kuncinya ada di pemecahan masalah, saat ilmu mu bisa bantu kamu menyelesaikan masalah yang ada maka saat itulah ilmu mu jadi berguna.

2. ATM kehidupan yang lebih maju

Kalau di kehidupan Kartini, Kartini melihat bagaimana perempuan bisa mendapatkan hak belajar dan bersuara yang sama. Ia mendambakan kehidupan dimana perempuan bisa menyampaikan pendapatnya dan bisa berkontribusi bagi lingkungan, termasuk bisa bekerja dan menyalurkan hobi. 

Di kehidupan sekarang, mungkin bisa melihat bagaimana atau apa yang dilakukan masyarakat negara maju untuk bisa sangat tertarik baca buku dan menyelesaikan persoalan. Berbeda dengan era Kartini yang masyarakatnya buta huruf, masyarakat sekarang sudah nggak buta huruf lagi hanya saja minat bacanya rendah. 

Mungkin masalah ini bisa menjadi masalah bersama yang harus diselesaikan sekarang. Mengingat masalah kemiskinan juga masih belum teratasi sepenuhnya, mungkin caranya bisa dibalik dari era Kartini dulu. Kalau di era Kartini atasi kemiskinan dulu, setelah itu utamakan pendidikan, sekarang utamakan belajar membaca dan menyelesaikan masalah dulu, setelah itu baru atasi masalah kemiskinan. 

(Ini cuman mungkin lho).

3. Coba hal baru

Kartini dan adik-adiknya melakukan banyak hal  yang bisa membantunya berkembang lebih pesat, semua itu karena mereka mau mencicipi hal baru yang pastinya menyakitkan dan penuh suka cita. 

Kamu juga bisa coba hal baru yang mungkin belum pernah kamu bayangkan sebelumnya. Mencoba hal baru ini bisa menjadikanmu lebih bisa menerima diri sendiri dan lebih bersyukur lho.

4. Analisis masalahnya dengan benar

Untuk bisa menyelesaikan masalah, kamu harus bisa menganalisisnya secara lebih teliti. Mungkin masalahnya bukan dari lingkungan mu, bukan dari keluargamu, mungkin juga bukan dari ekspektasimu. Analisis secara teliti agar kamu tau bagian mana yang harus dibenahi. 

Untuk kehidupan real life, kamu juga harus melibatkan Allah sebagai pemilik seluruh kehidupan. Apapun kepercayaanmu, selama kamu berusaha jangan pernah lupakan fakta bahwa pertolongan Allah akan selalu ada untuk orang yang berikhtiar dengan sungguh-sungguh. 

5. Punya kedudukan itu penting

Kartini sebagai putri seorang Bupati jelas memiliki kedudukan yang nggak bisa dianggap remeh. Kartini punya kesempatan untuk baca buku lebih sering dari orang-orang, punya banyak buku bagus, bisa berhubungan dengan orang-orang penting dan punya kesempatan untuk lebih di dengar.

Bayangkan kalo orang yang punya ide brilian seperti Kartini cuman rakyat biasa yang ngga bisa baca dan nggak punya relasi, idenya tetap akan mengendap di dunia ide dan nggak akan terjangkau.

Karena itu, punya kedudukan itu penting dan punya kedudukan adalah tanggung jawab. Untuk mengubah sistem yang berlaku, mengubah peraturan dan menjadikan peraturan lebih fleksibel, kamu harus punya kedudukan. Sebelum kamu ada di posisi itu, kamu hanya akan mengikuti peraturan aja sampai akhir. 

***

Itu aja yang mau Arunika bagikan di review film kali ini. Sepertinya ini agak lebih panjang dari biasanya ya? Semoga tidak bosan ya, terima kasih.. 

Btw, kalo ada yang mau respon, kasih komentar atau ngobrol secara private bisa hubungi lewat kolom komentar atau contact us. see ya! 

Post a Comment for "Review Film Kartini Pahlawan Perempuan Indonesia dan Pergerakannya"