Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Killer Book Club, Tentang Perencanaan Cerita yang Matang dan Plot Twist

Killer Book Club

Sutradara: Carlos Alonso Ojea

Tahun Rilis: 2023

Genre: mystery, thriller

Rate: 8.5


Arunika - Gimana rasanya ngeliat orang yang paling dekat dan perhatian ke kita, ternyata adalah orang yang menyimpan dendam pribadi paling dalam? Sakit pasti, tapi Killer Book Club bukan sekedar menyajikan rasa sakit karena dikhianati aja. Kamu juga akan belajar cara bertahan hidup saat situasi kritis. 


Sesuai judulnya, Killer Book Club membahas tentang sekelompok pecinta buku yang senang berdiskusi soal buku-buku yang mereka baca. Keseruan kelompok ini berubah jadi teror yang mempertaruhkan nyawa, bahkan banyak yang jadi korban. Review lengkapnya simak ulasan Arunika berikut ini. 


Sinopsis Killer Book Club


Killer Book Club bercerita tentang 8 orang teman yang berasal dari berbagai latar belakang, bergabung dalam satu club pecinta buku. Mereka aktif berdiskusi soal buku bacaan pilihan mereka. Dari seluruh genre buku, 8 orang ini sangat tertarik pada buku-buku berbau thriller. 


Delapan orang tersebut adalah Angela, Virginia, Sebastian, Nando, Sara, Rai, Eva dan Koldo. Di pertemuan kali ini mereka bahas buku badut pembunuh. Salah satu karya mengerikan yang banyak disukai orang. 


Pertemuan berjalan seperti biasa dengan sedikit konflik kecil di antara anggota. Konflik utama di klub ini dimulai saat salah satu anggotanya mengalami pelecehan yang dilakukan oleh dosennya sendiri. Mereka secara serius ingin membalas perlakuan itu dan agar tidak ada korban lagi kedepannya. 


Ternyata kasus pelecehan itu hanya bagian openingnya aja.  Masih banyak hal lain yang nggak terduga disimpan di film ini, dan ujungnya kasus ini justru mengorbankan banyak nyawa tidak bersalah.


Review Killer Book Club

Killer Book club
Beberapa referensi menuliskan Killer Book Club masuk dalam genre film horor tapi Arunika merasa film ini sangat minim hal horornya, malah bisa dibilang ngga ada. Berkat penilaian ini lah, Killer Book Club masuk dalam kategori genre film thriller misteri yang melibatkan banyak kejutan.


Bagi para pecinta buku, punya Klub Diskusi Buku kayak gini pasti impian banget dong. Anggotanya nggak terlalu banyak, setiap orang punya kesempatan yang sama di klub ini. Dan kamu bakal rutin baca buku terus kalo nggak mau ketinggalan anggota lain. 


Part ini dijelaskan dengan sangat jelas di bagian awal, bahkan saat pertama kali Arunika nonton ada sedikit rasa iri yang muncul. Pun Arunika sempet mbatin, 'kayaknya enak punya klub buku gitu, kerjaannya jadi nggak sendirian'. Sampai  penjelasan soal klub mereka terungkap, semuanya masih baik-baik aja. 


Hal menarik dari film ini ada 2, pertama pengembangan ceritanya yang dibuat berbelit dan penuh misteri. Poin kedua adalah struktur novel thriller yang sesekali dibahas. Selama menonton, imajinasimu nggak akan mandek karena ada banyak pembahasan tentang novel thriller yang bisa kamu pahami makna dan strukturnya. 


Dari segi pengembangan cerita, pengembangannya dilakukan secara bertahap jadi bisa menggiring penonton untuk menerka-nerka siapa pelaku utamanya. Masalahnya dimunculkan bertahap dan resiko mati ada di depan mata. Jadi titik jurang dan rawannya terasa sangat jelas. 


Secara umum Arunika ngerasa film ini ceritanya familiar ya, nggak terlalu unik dan efek kejutnya sedikit. Apalagi sejak awal sudah ada bumbu-bumbu kalo pelakunya mungkin salah satu dari mereka berdelapan, pelakunya adalah orang yang sangat mengerti struktur cerita misteri, thriller dan sejenisnya. Ya pokoknya kalo dari cerita sejauh ini biasa aja tapi masih bisa dinikmati. 


Nah, hal yang bikin berkesan adalah warna dan teknik pengambilan gambarnya. Ceritanya bisa hidup karena teknik pengambilan gambarnya punya komponen story telling yang nggak berlebihan. Perpaduan antara cerita, gambar dan warna yang agak kuning ini bikin film Killer Book Club bisa dinikmati dan minim drama. 


Oiyaa, artistiknya keren ya. Terutama di ruangan diskusi mereka, niat banget nyusun dan menata ruangannya jadi hangat dan agak redup gitu. Komponen artistik di semua tempat juga niat, di kelas, di ruang dosen, di kamar, taman hiburan dan lainnya. Kayaknya porsi tim artistik dan wardrobe untuk film ini lebih banyak ya jadi nuansa yang dibangun terasa lebih nyata dan nggak maksa. Ini poin keren yang pasti capek banget, mulai dari menata konsep sampe nata ruangannya. 


Hal yang agak ganjal buat Arunika itu saat mulut Sebastian ditusuk pulpen tapi dia tetap bisa ngomong. Itu sakit banget nggak sih? Pulpen ditusuk dari dagu tembus ke mulut bagian dalam, kok bisa-bisanya dia masih bisa ngomong. Kek nggak kesleo gitu lho lidahnya. Terus darahnya warnanya hitam kering di bibir. Rasanya kurang pas gitu, mosok baru habis ditusuk darahnya udah kering. Terus ya mosok nggak ada darah yang ngucur ke baju. Karakternya malah jadi kayak psikopat. 

Gitu ya ada yang mau jadi pacarnya. Cerita dunia tipu-tipu ini memang penuh tipu-tipu deh. 


Terakhir, soal plot twist dan perencanaan. 

Satu poin penting yang bisa Arunika ambil dari film ini adalah, semuanya butuh perencanaan, butuh disusun dan butuh eksekusi. Pertimbangannya harus matang dan ngga bisa asal susun, apalagi kalo kamu 'dewa' pengendali alur cerita. 


Nggak tau, ini plot twist atau memang bagian dari rencana. Si tokoh pahlawan sejak awal memang diberi kesempatan untuk menang. Namanya aja pahlawan kan ya. Dia diatur sebagai pemenang, meskipun isi cerita dibuat untuk menyerang dia habis-habisan tapi takdirnya menang sebagai pahlawan. 


Nah, setiap kejadian yang ada di film ini kan dirancang oleh Sebastian tadi yang tujuannya mau balas dendam. Dia sengaja menciptakan tempat, karakter, kasus pemicu dan pengantar-pengantar konflik lainnya untuk bisa masuk ke inti cerita utama yang sudah dirancang. 


Cuman sialnya dia mati di dalam cerita rancangannya sendiri. Kalo kematiannya ini karena itu bagian dari rancangan rencananya, berarti ceritanya sukses dan berhasil sesuai rancangan awal. Tapi kalo kematiannya adalah plot twist yang dia sendiri pun nggak menduga bakal terjadi kecelakaan cerita begitu , ya berarti ini beneran plot twist. Bedanya plot twist ini bukan dia yang buat. 


Paham nggak maksud Arunika? 

Ya semoga paham ya karena ulasan ini mau Arunika akhiri sampai disini. Btw, berkat nonton film Killer Book Club ini Arunika jadi tertarik belajar struktur novel lho. Next, kalau ada kesempatan kita bahas soal struktur tulisan ya. Arunika juga pengen belajar baca buku itu dari struktur dan komponennya, jadi nggak sekedar asal baca aja gitu. 


Terima kasih sudah menyimak sampai selesai, sampai ketemu di postingan Arunika lainnya.

Post a Comment for "Review Killer Book Club, Tentang Perencanaan Cerita yang Matang dan Plot Twist"